Kamis, 08 November 2018

Ayah.... 😢😢😢

Ayah...
Jasamu tak bisa kubalas...
Aku hanya dapat membuat ayah menangis di depan semua orang..😢
Namun aku yakin ayah pasti bahagia..
Melihat anakmu wisuda..
Walaupun hal ini tidaklah sebanding dengan jasa-jasamu...
Yang selama ini engkau berikan untuk anakmu..
Dengan tanpa mengeluh
Engkau terus berjalan tanpa lelah
Sedikit demi sedikit
Engkau simpan hasil jerih payahmu
Hanya untuk membiayai kuliah anakmu
Aku Tidak tega melihat ayah
Baru datang dari kebiasaan
Wajahmu nampak lelah
Penuh keringat yang masih basah
Namun aku harus berkata;
Ayah...
Adi harus bayar uang kuliah
Ya nak. ...
😢Engkau jawab dengan tenang
Seakan tiada beban
Hanya untuk memberikan semangat untuk anakmu
Namun aku tahu
Kalo ayah masih harus mencari
Entah kemana
Hingga anakmu dapat belajar dengan tenang..
Terkadang anakmu datang kuliah langsung makan karena lapar
Namun Ayah.... 😢
Ayah lebih memilih tertidur dalam lelah
Untuk menahan rasa lapar..
Karena khawatir anakmu tidak bisa belajar...
Ayah...
Aku tidak tahu bagaimana harus membalas jasamu
Namun hanya inilah yang dapat kuberikan padamu
Melihat ayah bahagia
Dalam linangan air mata
😢😢😢😢

Pamekasan, 07/11/2018


Rabu, 07 November 2018

Manusia Bukan Tuhan

Manusia bukanlah tuhan
Manusia hanyalah seorang hamba
Manusia bukanlah malaikat
Namun terkadang lebih mulia dari malaikat
Manusia bukan pula setan
Namun terkadang lebih hina dari setan
Manusia memang ajaib
Manusia memang special
Mahluk tuhan yang tak perlu dikhawatirkan
Namun terkadang menghawatirkan
Manusia mahluk paling aneh
Tak sering berpikir nyelennih
Manusia mahluk paling sangar
Raja hutanpun jadi ketakutan
Manusia mahluk paling rakus
Lebih rakus dari pada tikus
Dunia untuk manusia
Manusia untuk dunia
Manusia dan dunia
Dua benda dalam satu wahana
Manusia rusak dunia rusak
Dunia rusak manusia rusak
Manusia sumber bencana
Karena memang manusia itu hina
Dunia ini fana
Manusia itu hina
Haruskah aku bangga
Aku tiada apa-apa
Jasadpun tergadaikan dalam doa
Tiada abadi tiada kuasa
Hanya ridaNya yang kupinta
Dalam dzikir yang tersisa

Pamekasan, 7/11/2018


Minggu, 04 November 2018

"Jalan Terbaik Menyambut Kematian Hanyalah Mengesampingkan Ego Dari Kehidupan" (Sang Pengembara)

Jumat, 02 November 2018

Bujang-bujang sudah tak malu
Makan minum sekuat nafsu
Tuamu mati tak bermutu
Sepandai-pandainya lidah merayu
Namun hati tak sepadu
Kan berlalu bak benalu

Sabtu, 20 Oktober 2018

Teman Sejati

Kebanyakan orang salah kaprah menyatakan teman sejati mereka.
Ketika ditanya siapa teman sejatimu..?
Banyak menjawab si pulan.... 
"teman sejati adalah teman yang selalu ada saat suka dan duka"
Disaat kita suka (hidup didunia) dia ada,  disaat kita duka (mati)  dia tetap bersama kita...
Apakah sipulan selalu bersama kita dalam dua masa (hidup dan mati),  tentu tidak....
Jika demikian berarti kita salah menyatakan bahwa sipulan adalah teman sejati kita, karena sipulan hanya akan ada saat kita suka (hidup) saja..!
Lantas siapa teman sejati kita..?
TEMAN SEJATI kita adalah HATI NURANI kita sendiri,  dialah yang akan selalu ada dengan kita saat suka dan duka (hidup dan mati).
Hanya saja kita tidak mau percaya diri sehingga kita tidak bisa menemuinya.
Hanya mereka yang mau merenunglah yang dapat menemukan TEMAN SEJATI....!
TEMUI TEMAN SEJATIMU DALAM HATI NURANIMU DENGAN PERCAYA DIRI

Jumat, 12 Oktober 2018


"Belajarlah membaca dengan UTUH, karena dengan demikian engkau akan menjadi GENERASI yang PATUH. 
Belajarlah untuk tidak membaca SEPOTONG-SEPOTONG, karena jika engkau lakukan engkau akan menjadi GENERASI KONGKALIKONG"

Kamis, 04 Oktober 2018

Palu Yang TERJARAH

Dikala ufuk di waktu senja penuh lara
Tak lagi riang gembira
Luluh lantahnya bahtera
Membawa duka lara
Senyum manis hilang entah ke mana
Harus ku cari
Semua berlari
Mencari tempat berdiri
Sejauh mata memandang
Hanya puing-puing gedung yang datang
Jasad tanpa nafas bergelimang
Tangis haru bersahutan
Mereka mulai lemah tak berkalori
Tak kuat lagi untuk berdiri
Mau makan rumah tak lagi berdiri
“BOLEH AMBIL DI MINI MARKET”
Titah atau mandatkah ini
Mereka seakan kesurupan tak sadar diri
Gedung-gedung pangan seakan milik sendiri
Mereka datang dan lari
Memikul karung seisi lemari
Gedung-gedung pangan tetap berdiri
Namun isinya tak lagi berarti
Hilang bak ditelan bumi
Gudangku dijarah
Tokoku hancur tak berdarah
Mereka menjadi penjarah
“MEREKA TIDAK MENJARAH CUMA MENGAMBIL SAJA”
Katanya dengan santai
Seakan tak ada beban
Sungguh ironi negeriku
Mereka kesurupan atas pernyataannya
Moral bangsa hancur dalam hitungan masa
Bangsa ini pun menjadi tertawaan dunia
Ternyata bukan hanya Palu yang TERJARAH
Moral bangsaku pun TERJARAH

Pamekasan, 04/10/2018

Rabu, 03 Oktober 2018

Palu yang Malang

Pulau yang indah
Tepian pantai yang ramah
Tapi sayang telah terjamah
Warga hidup mewah
Yang miskin tetap lemah
Gedung-gedung mewah
Tumbuh memanah
Dermaga ditepian pantai indah
Namun tampaknya Wah
Aneh tapi nyata
Warga tak banyak yang tau... katanya
Lah kok bisa ya...?
Mereka saja bingung apalagi saya..
Ufuk senja begitu indah dimata
Penuh warna menghias bahtera
Angin berhembus ria
Menari gemulai diatas bahtera
Ombak lihai berdansa
Burung-burung bernyanyi diatas menara
Tak ada yang menyangka
Tanah berdansa
Menggoncang dunia
Panggung sandiwara membelah membawa duka
Mata heran tak percaya
Hati gelisah entah harus kemana
Bahtera sudah tak elok dimata
Iapun marah menggulung suasana
Suasana tak lagi berarah
Porak-poranda disemua arah
Nyawa melayang tak bertuah
Jasad tanpa suara berserakan
Deraian air mata tak terelakkan
Hanya pasrah kupersembahkan
Doa kupanjatkan

Pamekasan, 03/10/2018



Rabu, 05 September 2018

Membaca dalam Getaran Jiwa

Ya Allah...
Hamba iba untuk terus membaca
Hamba terasa berdosa
Hamba tiada kuasa
Tetesan air mata tanpa terasa
Hati lapuh tak berdaya
Hamba tiada kuasa
Beramal atas apa yang hamba baca
Tidak kuat raga ini untuk berkaca
Dengan jiwa yang tiada harga
Hamba sadar atas jiwa
Yang tiada harga
Hamba harus membaca
Terus membaca
Berusaha menjual jiwa
Menjadi berharga disisiNya

Pamekasan, 05/09'2018