Selasa, 16 Januari 2018

KONSEP ISLAM DALAM MENYIKAPI KEMUNGKARAN



عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال : قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول - مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذٰلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانْ - رواه مسلم
Dari Abu Sa'id Al Khudri radhiyallahu anhu, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda : “Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah kalian merubahnya dengan tangannya; jika ia tidak sanggup, maka dengan lidahnya; dan jika tidak sanggup, maka dengan hatinya, dan demikian itu adalah selemah-lemahnya iman”. (H.R. Muslim).
Kehidupan manusia didunia tidak akan pernah lepas dari kebaikan dan keburukan. Manusia akan menghadapi berbagai macam rintangan dalam menjalani kehidupan ini untuk mencapai tujuan yang mereka inginkan. Setiap manusia memiliki maksud dan tujuan berbeda dalam kehidupan mereka, sehingga tidak jarang kita temui muda-mudi dengan gaya dan penampilan hidup mereka yang terkadang membuat kita tertawa hingga terharu melihatnya. Dunia memanglah panggung sandiwara yang tidak sepenuhnya kita sadari, dan tidak sepenuhnya dapat difahami, dunia ini hanyalah sebatas tempat petualangan bagi manusia. Dengan adanya perbedaan tujuan hidup manusia di dunia ini, maka akan mengakibatkan perbedaan-perbedaan paradigma berpikir, akan mengakibatkan perbedaan-perbedaan sosial (mobilitas sosial), dan timbulnya perbedaan-perbedaan ini akan mengakibatkan terjadinya konflik sosial.
Sosial adalah kumpulan masyarakat yang tidak terpisahkan dari kearifan lokal dan budaya hidup masyarakat. Sosial dalam kehidupan masyarakat akan selalu mengalami perubahan, baik secara lambat atau secara cepat. Mobilitas sosial horizontal merupakan perubahan sosial yang terjadi pada seseorang secara datar. Dalam perubahan sosial ini seseorang tidak mengalami peningkatan dalam kondisi sosialnya, akan tetapi mereka mengalami perpindahan secara ekologi. Seperti halnya,  seseorang menjadi pengurus di bidang managemen keuangan dalam organisasi kemasyarakatan di desa A, kemudian pindah kedesa B dan tetap menjadi pengurus di bidang managemen keuangan. Akan tetapi, jika ada seseorang yang mulanya sebagai seorang kuli bangunan, namun kemudian dia menjadi kepala bagian tata usaha dalam sebuah perusahaan atau dalam instansi kepemerintahan, maka perubahan ini disebut dengan mobilitas sosial vertikal yaitu perubahan sosilal yang terjadi pada seseorang dari bawah ke atas. Selain itu  ada pula perubahan sosial dari atas kebawah, dan perubahan ini merupakan perubahan yang tidak baik bagi seseorang. Contoh, pada tahun lalu si A menjadi kepala bagian tata usaha dalam salah satu instansi kepemerintahan, namun karena melakukan tindak pidana korupsi sehingga harus di proses secara hukum kemudian dipenjara dan diberhentikan secara tidak hormat dari tempat ia bekerja. Kondisi ini merupakan perubahan sosial menurun, yang awalnya sebagai kepala bagian tata usaha, karena melakukan tindak pidana terpaksa harus mendekam dipenjara. Contoh lain bisa juga terjadi pada seorang pengusaha yang awalnya menjadi pengusaha yang kaya raya dengan memiliki perusahan yang maju dengan karyawan yang banyak, namun karena usahanya mengalami kebankrutan sehingga harus gulung tikar, tidak dapat merintis kembali usahanya dan dengan terpaksa harus bekerja (menjadi karyawan) untuk menghidupai keluarganya. Dua realitas kehidupan ini merupakan bagian dari perubahan sosial menurun dan tidak menutup kemungkinan dalam sewaktu-waktu akan menimpa kita.
            Perubahan sosial terjadi dan dipegaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah agama, budaya, gaya hidup dan sebagian besar dipengaruhi oleh tingkat pendidikan. Semakin tinggi pedidikan seseorang, akan semakin berpengaruh pada terjadinya perubahan sosial, karena seseorang yang berpendidikan tentunya akan mengalami pola berpikir yang dinamis dan akan meninggalkan pola berpikir yang primitif. Seseorang yang berpendidikan akan selalu berusaha untuk merubah nasib mereka menjadi lebih baik dan berusaha untuk dapat menyesuaikan diri dengan kondisi saat ini. Hal ini berbeda dengan seseorang yang tidak berpendidikan, mereka cenderung berpikir primitif dan sulit untuk menerima gaya hidup modern, sehingga kecenderungan untuk merubah setatus sosial mereka sangat rendah.
            Semakin besar keinginan seseorang untuk mencapai perubahan sosial, maka akan semakin besar pula adanya kemungkinan terjadinya konflik sosial dalam masyarakat. Seseorang yang menginginkan dirinya lebih baik dari sebelumnya, mereka akan berusaha mencari jalan untuk bisa merubah nasib mereka, dan tidak menutup kemungkinan orang-orang yang tidak sabar (keburu jaya), mereka akan menghalalkan segala cara untuk mencapai apa yang mereka inginkan. Tidak peduli akibat yang akan diterima bagi dirinya dan akibat yang akan berdampak kepada orang lain, mereka cenderung memikirkan dampak yang terjadi dalam waktu singkat, yaitu kejayaan. Permasalah seperti ini dapat menimbulkan konflik antar individu dengan individu, bahkan dengan kelompok, karena orang-orang yang hanya memikirkan kesenangan dirinya sendiri, mereka sulit memikirkan orang lain dan bahkan akan memanfaatkan orang lain atau kelompok demi ambisi yang ingin mereka capai.
            Baru-baru ini kita dihadapkan dengan adanya pemilihan gubernur DKI Jakarta yang kemudian menumbuhkan benih-benih komflik yang berkepanjangan, karena usaha dari pihak-pihak tertentu yang tidak mau menerima kenyataan. Kendaraan yang paling disukai oleh mereka untuk memecah belah kehidupan sosial adalah agama, karena agama merupakan kendaraan tercepat untuk dijadikan transportasi menuju terjadinya perpecahan. Kita semua bisa melihat kenyataan yang telah terjadi beberapa waktu silam, salah satu calon gubernur yang telah mengeluarkan kata-kata yang dianggap tidak pantas dan melecehkan agama bagi kaum muslimin dan hal ini seharusnya tidak dilakukan oleh seorang pemimpin, dimana pemimpin seharusnya mempunyai kredibilitas dalam memimpin, dan dapat mengayomi rakyatnya bukan malah membuat rakyatnya resah terhadap perilakunya. Akibat dari ketidak hati-hatian seorang pemimpin dalam menyampaikan aspirasi atau berargumentasi, timbullah konflik yang membangunkan semangat rakyat yang tertidur nyenyak dalam belayan penguasa, dari tingkat bawah sampai tingkat atas semuanya bangun untuk menuntut sang penista.
Aksi damai 212 yang digelar di munas pada tanggal 2 Desember 2016 yang kemudian disusul dengan reuni 212 pada tanggal 2 Desember 2017. Save Palestina merupakan aksi yang melibatkan semua Negara-negara muslim dunia, di Indonesia aksi ini dilaksanakan pada tanggal 17 Densember 2017 di monas Jakarta. Aksi ini merupkan bentuk pembelaan kaum muslimin atas ulah sang penista dan presiden AS yang menyatakan bahwa kota palestina tempat masjidil aqsha tegak berdiri dinyatakan sebagai ibu kota israil. Aksi-aksi ini merupakan salah satu bentuk loyalitas atau ketaatan seseorang atas keyakinan mereka terhadapa agama yang mereka percayai, dan semua pemeluk agama tidak ada yang mau agama mereka dikatakan sebagai agama yang tidak baik dan tidak mau tempat-tempat suci mereka dikuasai oleh orang-orang yang tidak seagama dengan mereka yang kemudian dapat mempengaruhi terjadinya kemunduran agama. Aksi-aksi seperti ini akan terus terjadi jika usaha-usaha yang dapat menimbulkan perpecahan, adu-domba terus dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu yang tujuannya tida lain hanyalah untuk mencapai dan menciptakan kekuasan.
            Dalam menyikapi permasalahan atau konflik yang terjadi dalam kehidupan masyarakat, maka diperlukan adanya kearifan dalam menyikapi semua itu, utamanya bagi pemimpin yang mempunyai kewenangan penuh dalam mengatur rakyatnya. Kecerobohan, main hakim sendiri tidaklah dibenarkan dalam undang-undang suatu Negara maupun didalam ajaran agama islam. Berkaitan dengan pemecahan konflik, ada beberapa langkah yang dapat ditempuh, yaitu;
1.    Akomodasi yaitu usaha untuk mencapai stabilitas kehidupan bermasyarakat yang kemudian pihak-pihak yang berkonflik saling bekerja sama satu sama lainnya. Bentuk-bentuk akomodasi :
a.    Gencatan senjata, yaitu penangguhan permusuhan untuk jangka waktu tertentu, guna melakukan suatu pekerjaan tertentu yang tidak boleh diganggu.
b.    Abitrasi, yaitu suatu perselisihan yang langsung dihentikan oleh pihak ketiga yang memberikan keputusan dan diterima serta ditaati oleh kedua belah pihak. Kejadian seperti ini terlihat setiap hari dan berulangkali di mana saja dalam masyarakat, bersifat spontan dan informal. Jika pihak ketiga tidak bisa dipilih maka pemerintah biasanya menunjuk pengadilan.
c.    Mediasi, yaitu penghentian pertikaian oleh pihak ketiga tetapi tidak diberikan keputusan yang mengikat.
d.    Konsiliasi, yaitu usaha untuk mempertemukan keinginan pihak-pihak yang berselisih sehingga tercapai persetujuan bersama.
e.    Jalan buntu, yaitu; keadaan ketika kedua belah pihak yang bertentangan memiliki kekuatan yang seimbang, lalu berhenti pada suatu titik tidak saling menyerang. Keadaan ini terjadi karena kedua belah pihak tidak mungkin lagi untuk maju atau mundur.
2.    Ajudikasi, yaitu penyelesaian konflik di pengadilan. Bentuk-bentuk Ajudikasi :
a.    Eliminasi, yaitu pengunduran diri salah satu pihak yang terlibat di dalam konflik, yang diungkapkan dengan ucapan antara lain : kami mengalah, kami keluar, dan sebagainya.
b.    Subjugasi atau dominasi, yaitu orang atau pihak yang mempunyai kekuatan terbesar untuk dapat memaksa orang atau pihak lain menaatinya. Sudah barang tentu cara ini bukan suatu cara pemecahan yang memuaskan bagi pihak-pihak yang terlibat.
c.    Aturan mayoritas, yaitu suara terbanyak yang ditentukan melalui voting untuk mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan argumentasi.
d.    Persetujuan minoritas, yaitu kemenangan kelompok mayoritas yang diterima dengan senang hati oleh kelompok minoritas. Kelompok minoritas sama sekali tidak merasa dikalahkan dan sepakat untuk melakukan kerja sama dengan kelompok mayoritas.
e.    Kompromi, yaitu jalan tengah yang dicapai oleh pihak-pihak yang terlibat di dalam konflik.
f.     Integrasi, yaitu mendiskusikan, menelaah, dan mempertimbangkan kembali pendapat-pendapat sampai diperoleh suatu keputusan yang memaksa semua pihak.
Dalam al-quran dan hadits kata yang digunakan untuk menggambarkan tindakan-tindakan yang tidak dibenarkan menurut agama islam yaitu kata mungkar atau kemungkaran dan kata konflik (perselisihan) jarang digunakan. Dalam al-quran (berdasarkan terjemahan al-quran) kata perselisihan hanya disebutkan sebayak 5 kali, yaitu ;
1.    Surat Al-baqoroh ayat 213
كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ وَمَا اخْتَلَفَ فِيهِ إِلا الَّذِينَ أُوتُوهُ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ فَهَدَى اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا لِمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَاللَّهُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. (QS. Al-baqoroh:213)
2.    Surat Ali-imron ayat 64
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلا نَعْبُدَ إِلا اللَّهَ وَلا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". (QS.Ali-imron:64)
3.    Surat Al-isra` ayat 53
وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلإنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا
Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: " Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.(QS.Al-isra`:53)
4.    Surat Shaad ayat 20
وَشَدَدْنَا مُلْكَهُ وَآتَيْنَاهُ الْحِكْمَةَ وَفَصْلَ الْخِطَابِ
Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan. (QS.Shaad:20)
5.    Surat Az-zumar ayat 29
ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا رَجُلا فِيهِ شُرَكَاءُ مُتَشَاكِسُونَ وَرَجُلا سَلَمًا لِرَجُلٍ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلا الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لا يَعْلَمُونَ
Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); Adakah kedua budak itu sama halnya? Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (QS.Az-zumar:29)
Selain itu menggunakan kata mungkar atau kemungkaran. Kata mungkar atau kemungkaran dalam al-quran dan hadits digunakan untuk menggambarkan perbuatan-perbuatan yang tidak sesuai dengan ajaran-ajaran islam atau sesuatu yang tidak baik yang dapat menimbulkan ketidak nyamanan yang dapat mengganggu stabilitas kehidupan masyarakat. Kata konflik bermakna khusus sedangkan kata mungkar atau kemungkaran mempunyai makna universal, Pada esensinya kata konflik dan kemungkaran memiliki makna yang sama yaitu perbuatan-perbuatan yang dapat mengganggu stabilitas kehidupan masyarakat, adapun cara-cara menyikapi terjadinya kemungkaran dalam islam, sebagaimana sabda Rasulullah SAW.
عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال : قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول - مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذٰلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانْ - رواه مسلم
Dari Abu Sa'id Al Khudri radhiyallahu anhu, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda : “Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah kalian merubahnya dengan tangannya; jika ia tidak sanggup, maka dengan lidahnya; dan jika tidak sanggup, maka dengan hatinya, dan demikian itu adalah selemah-lemahnya iman”. (H.R. Muslim).
Berdasarkan hadits di atas, konsep menyikapi terjadinya konflik atau kemungkaran ialah merubah dengan tangan, dengan cara mengambil atau menghancurkan benda-benda yang dipakai dan merupakan kewajiban seorang pemimpin untuk memberikan sanksi tegas bagi siapapun yang melakukan kemungkaran. Kemudian merubah dengan mulut, apabila kita tidak kuasa untuk merubah dengan tangan karena khawatir terjadi sesuatu yang membahayakan, maka bisa dengan memberikan saran, teguran dan sebagainya, sedangkan merubah kemungkaran dengan hanya bergumang dalam hati merupakan sikap ketidakberdayaan seseorang dalam menyikapi keadaan yang tidak seharusnya terjadi karena kekuatan orang-orang yang melakukan kemungkaran tersebut lebih kuat dari kita dan sikap ini tidak seharusnya dimilki oleh soerang penguasa, karena walau bagaimanapun penguasa merupakan kekuatan tertinggi dari rakyatnya dengan otoritasnya dalam mengatur dan memimpin.
Menurut Imam Al-ghazali dalam menyikapi terjadinya kemungkaran, ada beberapa langkah yang harus diperhatikan ;
1.    Muhtasib (Pengatur dan Pelaksana), dengan syarat :
1.    Mukallaf, yaitu: Orang yang telah diberatkan dengan kewajiban agama, karena telah dewasa dan berpikiran sehat.
2.    Muslim dan kompeteble, termasuk dalam kewajiban itu semua rakyat. Walaupun mereka tidak memperoleh ijin dari yang berwenang. Dan termasuk juga wanita, budak, dan orang fasiq.Maka tidak termasuk orang gila, anak-anak, orang kafir, dan orang yang tidak mempunyai kesanggupan (orang lemah).
3.    Muhtasib memperoleh ijin dari pihak imam (kepala pemerintahan) dan wali negara. Persyaratan ini lebih pada segala sesuatu yang berkaitan dengan ketertiban administrasi kewarganegaraan..
2.    Muhtasab fih (Bentuk kemungkaran), yang dilakukan atau yang terjadi mempunyai empat syarat:
1.    Benar-benar terjadi.
2.    Terjadinya kemungkaran dimasa sekarang, yaitu kemungkaran yang sedang terjadi dan bukan kejadian yang telah terjadi dimasa lalu atau yang akan datang (menduga).
3.    Kemungkaran yang dilakukan diketahui dengan jelas.
4.    Kemungkaran yang dilakukan diketahui tanpa jalan ijtihad. Maka tiap-tiap yang berada pada tempat ijtihad, niscaya tiada hisbah padanya. Maka orang yang bermadzhab Hanafi tidak boleh memandang munkar terhadap orang yang bermadzhab Syafi’I yang memakan dlabb (binatang darat yang bentuknya seperti biawak) dan dlabu (bentuknya mengarah ke babi hutan, tetapi bertanduk dan ekornya berbulu. Leher dan punggung berbulu panjang). Dan orang yang bermadzhab Syafi’I tidak boleh memandang munkar kepada orang yang bermadzhab hanafi yang meminum air nabidz (air buah anggur kering) yang tidak memabukkan dan menerima pusaka dzawil-arham ( keluarga pihak ibu yang menurut madzhab Syafi’I bukan ahli waris, sedangkan bagi hanafi, itu adalah ahli waris). Namun orang bermadzhab Syafi’I dapat bertanya jika orang Syafi’I sendiri yang melakukan itu, demikian pula untuk madzhab Hanafi.
3.    Muhtasab 'alaih (pelaku kemungkaran / Subjek)
Syaratnya, sseseorang yang dilarang dari perbuatannya tersebut adalah perbuatan mungkar, dan tidak disyaratkan harus mukallaf.
4.    Nafsul-ihtisab (Tindakan) yang harus dilakukan dalam menyikapi terjadinya kemungkara.
1.    Ta'arruf (Pengenalan), mengenali bentuk dan sifat kemungkaran yang terjadi.
2.    Ta 'rif (Pemberitahuan), memberi tahu bahwa apa yang telah dilakukan oleh pelaku merupakan perbuatan yang dapat mengganggu stabilitas kehidupan orang lain.
3.    Melarang dengan cara memberikan nasehat dengan perkataan-perkataan yang lemah lembut.
4.    Menegur dan menggertak dengan kata-kata yang baik.
5.    Merubah dengan tangan (melarang perbuatan munkar dengan paksaan secara langsung, seperti memecahkan alat permainan, membuang khamar, melepaskan kain sutra dari pemiliknya, dan sebagainya).
6.    Mengancaman dengan sanksi dan menakut-nakuti.
7.    Memukul dengan tangan, kaki dan lainnya, dan menggunakan senjata jika cara lain sudah tidak memungkinkan.
8.    Meminta bala bantuan pihak keamanan (Polri atau TNI) untuk menghentikannya jika tidak dapat dilakukan sendiri.
Berkenaan dengan kewajiban seseorang dalam mencegah kemungakaran Allah SWT berfirman dalam al-quran surat Lukman:17 ;
يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأمُورِ
Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (QS. Lukman:17)
Dan dalam surat An-nahl:125 ;
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS.An-nahl:125)
Bahwasanya setiap manusia berkewajiban untuk sama-sama mengajak dalam kebaikan, saling mengingatkan dalam kemungkaran dan berlaku sabar dalam menghadapinya. Dalam menyikapi kemungkaran haruslah dihadapi dengan sikap arif dan bijaksana, dengan langkah-langkah yang baik yang bersifat persuasif dan edukatif, tidak menimbulkan konflik baru yang dapat mengakibatkan terjadinya konflik yang berkepanjangan. Oleh karena itu dibutuhkan konpetensi, kehati-hatian dan keteladanan dalam menyelesaikan suatu permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Wallahu A`lamu Bimurodihi.

Kamis, 04 Januari 2018

AGAMA BUKANLAH DILEMA, AGAMA ADALAH KETENANGAN


Agama dan sosial
Kehidupan ini merupakan suatu keniscayaan bagi manusia yang harus disyukuri dan dinikmati, karena kehidupan ini hanyalah bersifat sementara dan tidak akan selamanya kehidupan ini menyertai kita. Kita hidup di muka bumi ini sebatas perkenalan saja, bak wisatawan yang hanya berkunjung dan melihat meninkmati keindahan dan kesejukan keadaan, setelah kita sampai pada masa pulang, sekalipun kita belum merasa puas, belum sepenuhnya kita lalui semua, maka sudah pasti waktu tidak dapat kita putar, jalan menuju pulang sudah membentang di depan mata. Rasa ketidak puasan manusia terus mengalir dalam pikiran mereka, keinginan untuk kembali dari awal perjalanan sangat didambakan hingga mereka dapat menggunakan waktu dengan baik tanpa lalai. Tanpa agama yang baik manusia tidak dapat menjalani kehidupan ini dengan baik, dan dengan agama yang baik, maka manusia dapat menjalani kehidupan ini dengan lebih waspada dan hati-hati demi mencapai kesempurnaan hidup yang hakiki.
Akhir-akhir ini kita dihadapkan dengan masalah-maslah kepemerintahan, masalah-masalah politik, masalah-masalah sosial yang kemudian dikaitkan dengan agama. Agama dijadikan kambing hitam suatu permasalahan sehingga masalah yang ada menjadi hangat dan menimbulkan perselisihan yang sangat urgen antara ormas satu dengan ormas yang lainnya. Tidak jarang pula beberapa kelompok memanfaatkan tokoh-tokoh agama sebagai front line dari permasalahan yang mereka olah demi meloloskan tujuan mereka, memecah belah kerukunan umat beragama, memecah belah hubungan sosial vertikal dan horizontal. Orang-orang yang kurang memahami kondisi kehidupan dizaman ini bisa saja mereka akan dengan mudah menerima dan membenarkan informasi-informasi yang beredar tanpa adanya filter yang mendasari pemahaman mereka. Minimnya keilmuan, pengetahuan dan tidak seimbangnya pemahaman anatara teoritis dan praktis sosial juga dapat menimbulkan kerancuan berpikir seseorang, dan memudahkan seseorang untuk menjustifikasi orang lain secara informatif dengan mengesampingkan objektivitas.
Manusia tercipta sebagai seorang hamba yang sejatinya menghambakan dirinya kepada Tuhan sang pencipta semata. Dengan kapasitas manusia sebagai seorang hamba, maka tidak ada satupun manusia yang dapat menjalani kehidupan ini dengan konsistensi diri tanpa adanya petunjuk yang dapat mengarahkan mereka menjalani kehidupan ini, oleh karena itu, Tuhan sebagai sang pencipta memberikan atau membekali kehidupan manusia dengan agama. Dengan berbekal agama inilah manusia dengan mudah menjalani kehidupan, dari agama inilah manusia dengan mudah mencari alasan, dimana jalan yang baik bagi diri mereka dan dimana jalan yang tidak seharusnya mereka lalui.
Apakah itu agama, pentingkah agama bagi kehidupan manusia…?
Seseorang yang hidup didunia wajib memahami konsep agama, karena agama tidak bisa dilepas dari kehidupan manusia. Agama merupakan jalan hidup bagi ummat manusia yang hidup dimuka bumi ini, untuk menggapai kehidupan yang abadi di akhirat nanti. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, agama adalah ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan yang mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya. Kata agama berasal dari bahasa Sansakerta àgama yang berarti “tradisi”. Selain itu kata agama juga berasal dari bahasa latin religio yang berasal dari kata kerja re-ligare yang berarti “mengikat kembali”. Artinya, dengan sebab beragama, manusia menergantungkan diri mereka kepada Tuhan semesta alam laailaahaillallah (tiada tuhan selain allah), hanya kepada Allah mereka meminta dan hanya kepada Allah mereka memohon pertolongan dari segala permasalahan yang mereka hadapi.
Pengertian agama menurut para ahli :
  1. H. Moenawar Cholil : kata dien itu masdar dari kata kerja “دان - يدين”. Menurut lughat kata “دين mempunyai arti :
1.      Cara atau adat kebiasaan
2.      Peraturan
3.      Nasihat
4.      Agama dan lain-lain
  1. Émile Durkhem : Agama adalah suatu sistem yang terpadu yang terdiri atas kepercayaan dan praktik yang berhubungan dengan hal yang suci.
  2. Sigmund Freud : Agama adalah gangguan obsesi mental manusia secara universal, sama seperti gangguan mental yang terjadi pada diri anak-anak. Agama muncul karena Oedipus Kompleks, karena masalah yang terjadi dengan ayah mereka.
  3. Karl Marx : Agama adalah lambing ketertindasan, agama adalah hati dari sebuah dunia yang tidak punya nurani, agama adalah roh dari keadaan tidak punya jiwa sama sekali, agama adalah candu masyarakat.
  4. Bahrun Rangkuti, seorang muslim cendekiawan sekaligus seorang linguis, mengatakan bahwa definisi dan pengertian agama berasal dari bahasa Sansekerta; a-ga-ma. A (panjang) artinya adalah cara, jalan, The Way, dan gama adalah bahasa Indo Germania; bahasa Inggris Togo artinya jalan, cara-cara berjalan, cara-cara sampai kepada keridhaan kepada Tuhan.
  5. Anthony F.C. Wallace : Agama sebagai seperangkat upacara yang diberi rasionalisasi lewat mitos dan menggerakkan kekuatan supernatural dengan maksud untuk mencapai terjadinya perubahan keadaan pada manusia dan semesta.
  6. Parsons & Bellah : Agama adalah tingkat yang paling tinggi dan paling umum dari budaya manusia.
  7. Luckmann : Agama adalah kemampuan organisme manusia untuk mengangkat alam biologisnya melalui pembentukan alam-alam makna yang objektig, memiliki daya ikat moral dan serba meliputi.
  8. Prof Dr.M. Drikarya : Agama adalah kenyakinan adanya suatu kekuatan supranatural yang mengatur dan menciptakan alam dan isinya.
  9. H. Moenawar Chalil : Agama adalah perlibatan yang merupakan tingkah laku manusia dalam berhubungan dengan kekuatan supranatural tersebut sebagai konsekuensi atas pengakuannya.
  10. Hendro Puspito : Agama adalah sistem nilai yang mengatur hubungan manusia dan alam semesta yang berkaitan dengan keyakinan.
  11. Jappy Pellokild : Agama adalah percaya adanya tuhan yang maha esa dan hukum-hukumnya.
  12. Harun Nasution : Agama dilihat dari sudut muatan atau isi yang terkandung di dalamnya merupakan suatu kumpulan tentang tata cara mengabdi kepada Tuhan yang terhimpun dalam suatu kitab, selain itu beliau mengatakan bahwa agama merupakan suatu ikatan yang harus dipegang dan dipatuhi.
  13. Tajdab, dkk (1994:37) : Agama berasal dari kata “a” berati tidak dan “gama” berarti kacau, kocar-kacir. Jadi, agama artinya tidak kacau, tidak kocar-kacir, dan/atau teratur.
  14. A.M. Saefuddin (1987) : Agama merupakan kebutuhan manusia yang paling esensial yang besifat universal.
  15. Sutan Takdir Alisyahbana (1992) : Agama adalah suatu system kelakuan dan perhubungan manusia yang pokok pada perhubungan manusia dengan rahasia kekuasaan dan kegaiban yang tiada terhingga luasnya, dan dengan demikian member arti kepada hidupnya dan kepada alam semesta yang mengelilinginya.
  16. Sidi Gazalba (1975) : religi (agama) adalah kecendrungan rohani manusia, yang berhubungan dengan alam semesta, nilai yang meliputi segalanya, makna yang terakhir, hakekat dari semuanya itu. 
  17. Bozman : agama dalam arti luas merupakan suatu penerimaan terhadap aturan-aturan dari pada kekuatan yang lebih tinggi dari manusia. 
Dari beberapa definisi tentang agama yang dikemukakan oleh para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa secara etimologi, Agama berarti jalan atau cara. Sedangkan secara termenologi, agama merupakan sistem atau teori yang baku dan dapat membawa seseorang mempunyai keyakinan akan adanya tuhan sebagai pemberi, pengatur dan pencipta kehidupan. Berbeda dengan Sigmund Freud yang menganggap bahwa Agama adalah gangguan obsesi mental manusia secara universal, sama seperti gangguan mental yang terjadi pada diri anak-anak. Agama muncul karena Oedipus Kompleks, karena masalah yang terjadi dengan ayah mereka. Freud menganggap bahwa agama merupakan sesuatu yang negative dan tidak seharusnya ada pada manusia. Begitu pula dengan Karl Mark, yang menganggap bahwa, Agama adalah lambang ketertindasan, agama adalah hati dari sebuah dunia yang tidak punya nurani, agama adalah roh dari keadaan tidak punya jiwa sama sekali, agama adalah candu masyarakat. Pernyataan ini mungkin tidak dapat kita terima sebagai seseorang yang beragama, namun bagi Freud pernyataan itu adalah sesuatu yang wajar, karena freud adalah seseorang yang tidak percaya dengan adanya agama (atheis), begitu pula bagi Mark yang menganut faham komunis.
Agama warisan dan agama petualang
Di Indonesia agama yang diakui dan mempunyai legalitas dari Negara ada enam agama yaitu, Islam, Kristen, Katolik, Hindu, budha dan Konghucu. Agama menjadi tuntunan kehidupan seseorang untuk menapaki kehidupan, dengan keyakinan itulah para penganut agama melakukan ritual-ritual keagamaan sesuai dengan keyakinannya. Disaat keyakinan dalam diri seseorang tidak dapat dipertahankan karena adanya kejolak dalam jiwa mereka, maka mereka tidak dapat mempertahankan keyakinan itu hingga mereka harus pindah kepercayaan kepada agama yang membuat hati mereka tenang dengan agama yang mereka yakini. Dalam agama islam ada lima ritual keagamaan yang wajib dilaksanakan bagi pemeluk agama islam yang dikenal dengan rukun islam, yaitu syahadatain (persaksian kepada Allah dan Rasulullah), sholat lima waktu (dzuhur, ashar, maghrib, isya` dan subuh), membayar zakat, puasa romadlan dan melaksanakan ibadah haji. Setelah yakin bahwa islam adalah agama yang paling benar, tentunya mereka akan melakukan ritual-ritual keagamaan sebagai bentuk ketaatan kepada agama. E.B. Tylor salah seorang ilmuan yang hidup pada tahun 1832 dan menghabiskan hidupnya untuk berpetualang dan belajar dengan independen diluar universitas hingga membawanya pada teori animism, menyatakan bahwa keyakinan dan ide tentang dunia adalah elemen paling penting dalam kehidupan beragama, dan menurutnya, ritual merupakan akibat yang muncul setelah adanya keyakinan pada diri seseorang. Artinya dengan adanya keyakinan dalam hati seseorang, maka mereka akan melaksanakan ritual keagamaan sebagai bentuk apresiasi ketaatan. Berbeda dengan Emile Durkham yang menganggap bahwa keyakinan itu ada setelah ritual-ritual, ritual lebih fundamental dari pada keyakinan dan ritual melahirkan keyakinan. Durkham juga menganggap bahwa ritual adalah sesuatu yang abadi yang ada dalam kehidupan sosial masyarakat.
Pernyataan dari kedua tokoh yang tidak asing namanya dalam dunia keilmuan ini, tentunya membuat kita berusaha untuk berpikir kembali, utamanya pernyataan yang dikemukakan oleh Durkham, bahwa keyakinan seseorang itu merupakan akibat dari adanya ritual. Bukankah karena keyakinan dalam diri kita atas agama yang kita percayai, kemudian kita melaksanakan kegiatan-kegiatan keagamaan. Kita tidak dapat menyalahkan Durkham dan tidak pula membenarkan sepenuhnya. Dalam studi agama, manusia itu mendapatkan agama dengan dua cara.  Pertama  dengan warisan (agama warisan) dari nenek moyang mereka. Jika nenek moyang mereka beragama islam, ayah cendrung beragama islam yang kemudian diikuti oleh anak cucu mereka, jika nenek moyang mereka beragama Kristen, maka ayah cndrung beragama Kristen yang kemudian diikuti oleh anak cucu mereka. Disaat agama yang mereka percayai merupakan agama warisan, tentunya keyakinan dalam diri seseorang akan kebenaran agama yang mereka anut akan timbul beberapa tahun setelah mereka melakukan ritual-ritual agama, ritual-ritual keagamaan yang dilakukan oleh nenek moyang mereka, sehingga dari sinilah menurut saya pernyataan Durkham dapat kita akui bahwa pada diri seseorangn dengan agama warisan, ritual merupakan fundamental yang kemudian menumbuhkan keyakinan dalam diri seseorang dalam beragama. Kedua, seseorang mendapatkan agama dengan cara petualangan dan perenungan yang dilakukan oleh seseorang hingga sampai pada titik keyakinan akan kebenaran suatu agama, ketika seseorang merasa tidak yakin dengan agama yang mereka percayai, maka kemudian, dengan petualangan dan perenungan yang mereka jalani, mereka akan berusaha mencari agama lain dan memilih menjadi seorang muallaf. Pada konsep yang kedua ini kita tidak bisa membenarkan penyataan Durkham karena bertentangan dengan realitas, sedangkan pernyataan Tylor sangatlah realistis.
Bermula dari adanya pemahaman-pemahaman yang sempit tentang agama, maka muncul perbedaan-perbedaan pendapat tentang masalah-masalah yang berhubungan dengan ritual, dan tidak jarang agama dijadikan striker problem bagi kelompok tertentu demi tercapainya kepentingan peribadi atau kelompok. Agama juga dijadikan sebagai alat untuk memecah belah suatu Negara dengan Negara lain, ormas dengan ormas, bahkan individu dengan individu. Karena agama merupakan suatu keyakinan yang telah mengkristal dalam hati seseorang dan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan masyarakat, sehingga ketika agama diganggu, maka mereka tidak akan tinggal diam, tidak tebang pilih apakah mereka yang mengganggu saudara atau musuh, tetap menjadi lawan. Bagi orang-orang yang memahami agama dengan sebenarnya, mereka akan menjadikan agama sebagai jalan untuk menata kehidupan, menjadikan agama sebagai problem solving of life, mereka akan menyikapi permasalahan ini dengan kepala dingin, berbeda dengan orang-orang yang hanya memahami agama secara lahiriyah saja, mereka cendrung kasar dalam menyikapi permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan agama, bahkan permasalahan selain agama. Orang yang memahami agama secara sungguh-sungguh, mereka akan sadar bahwa agama itu rahmatan lilalamin, dengan agama kita damai, dengan agama kita tentram, dengan agama kita sadar bahwa dalam diri kita ada ketidak sempurnaan  yang kemudian membutuhkan pertolongan dari dzat yang maha sempurna yaitu Tuhan.
Jadi jelas sekali bahwa agama merupakan keniscayaan dari Tuhan kepada hambanya sebagai pedoman hidup dalam menjalani kehidupan sebagai kholifah dimuka bumi ini. Pada setiap agama memiliki pedoman atau kitab yang berisi tentang ajaran-ajaran dan tuntunan kehidupan, yang mengatur manusia sesuai dengan kepercayaan mereka. Tidak ada satupun agama yang mengajarkan perilaku-perilaku tercela, perilaku tidak baik, semua agama mengajarkan bagaimana manusia berperilaku baik, bijaksana, tidak meresahkan orang lain atau mahluk lain. Dengan beragama, jiwa manusia menjadi tenang, agama memberikan kedamaian, agama meberikan perlindungan bagi setiap orang yang lemah, agama memberikan ketenangan bagi setiap pemeluknya.