Selasa, 10 Maret 2015

Aksiolog dan Nilai



A.    Kajian Aksiologi
            Aksiologi secara etimologi berasal dari bahasa Yunani, terdiri dari kata “aksios” yang berarti nilai, dan kata “logos” yang berarti teori. Jadi aksiologi merupakan cabang filsafat yang membahas nilai, secara singkat aksiologi adalah teori nilai. Nilai dapat dibedakan kepada dua jenis, yaitu “etika” dan “estetika”.[1]
            Istilah etika berasal dari kata “ethos” (Yunani) yang berarti adat kebiasaan. Dalam istilah lain para ahli yang bergeraka dalam bidang etika menyebutkan dengan kata ”moral”, berasal dari bahasa yunani juga berarti kebiasaan. Etika merupakan teori nilai, suatu pembahasan teoritis sistematis tentang nilai, ilmu kesusilaan yang memuat dasar-dasar untuk berbuat susila. Sedangkan moral menunjukkan pelaksanaannya dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun antara etika dan moral terdapat perbedaan, namun para ahli tidak membedakannya dengan tegas, bahkan secara praktis cendrung untuk memberi arti sama.[2]
            Estetika merupakan nilai-nilai yang berkaitan dengan kreasi seni dengan pengalaman-pengalaman manusia yang berhubungan dengan seni. Kadang-kadang esteika diartikan dengan filsafat seni, tapi kadangkala perinsip-perinsip yang berhubungan dengan estetika dinyatakan sebagai hakikat keindahan. Namun sesungguhnya keindahan hanya salah satu konsep dari sejumlah dalam filsafat seni.
            Dari segi etika, pancasila merupakan seprangkat nilai, sebagai hasil pemikiran putra-putra bangsa, sebagai landasan untuk menyelenggarakan kehidupan berbangsa sesuai kepribadian bangsa indonesia. Dari sudut moral, pancasila merupakan seprangkat nilai yang dijadikan sebagai pedoman dalam berprilaku bagi bangsa Indonesia, merupakan norma-norma kehidupan yang harus dilaksanakan.
Sila Pertama   : Ketuhanan Yang Maha Esa
Sila Kedua      : Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab
Sila Ktiga        : Persatuan Indosnesia
Sila Keempat  : Kerakyatan
Sila Kelima     : Keadilan Sosial
            Moral keadilan yang harus dihayati dan harus menjadi perilaku bangsa indonesia adalah:[3]
a.       Mengembangkan perbuatan-perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan gotong royong.
b.      Bersikap realistis.
c.       Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiaban.
d.      Menghormati hak-hak orang lain.
e.       Suka membaeri pertolongan kepada orang lain.
f.       Menjauhi sikap pemerasan kepada orang lain.
g.      Tidak bersikap boros.
h.      Tidak bergaya hidup mewah.
i.        Tidak melakukan perbuatan yang merugiakan kepentingan umum.
j.        Suka bekerja keras.
k.      Menghargai hasil karya orang lain.
l.        Bersama-sama berusaha mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadialan sosial.

B.     Hakikat Nilai.
Nilai dalam pandangan Brubacher – sebagaimana dikutip muhaimin – takterbatas ruang lingkupnya. Nilai tersebut sangant erat dengan pengertian dan aktivitas manusia yang kompleks, sehingga sulit ditentukan batasnya. Nilai adalah seluas potensi kesadaran manusia. Variasi kesadaran manusia sesuai dengan individualitas dan keunikan kepribadiannya.
Dalam Encyclopedi Beritannica ditulis bahwa : …what is value… the immediate and natural answer to this question is to say that value is a determination or quality of an object which involvesany sort of apriciation or intrest. (… apakah nilai itu … jawaban langsung dan wajar atas pertanyaan ini adalah bahwa nilai itu adalah suatu penetapan atau suatu kualitas sesuatu objek yang menyangkut suatu jenis apresiasi atau minat).[4] 

C.    Sumber Nilai Dalam Kehidupan Manusia.
Sumber nilai yang berlaku dalam peranata kehidupan manusia dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu:[5]
1.      Nilai Ilahiyah.
2.      Nilai Insaniyah.

D.    Nilai Dan Tujuan Pendidikan Islam.
Pendidikan islam adalah rangkaian peroses yang sistematis, terencana dan komprehensif dalam upaya mentranfer nilai-nilai kepada anak didik, mengembangkan potensi diri yang ada pada diri anak didik, sehingga mampu melaksanakan tugas kekhalifahan di muka bumi dengan sebaik-baiknya, sesuai dengan nilai-nilai ilahiyah yang didasarkan pada ajaran agama pada semua dimensi kehidupan.
Batasan ini mendiskripsikan bahwa bila pendidikan kita pandang sebagai suatu proses, maka proses tersebut akan berahir pada tercapainya tujuan akhir pendidikan. Suatu tujuan yang hendak dicapai pada hakikatnya adalah suatu perwujudan dari nilai-nilai ideal yang terbentuk dalam pribadi yang diinginkan.
Nilai-nilai ideal itu mempengaruhi dan mewarnai pola kepribadian manusia, sehingga menggejala dalam prilaku lahiriyahnya, dengan kata lain, prilaku lahiriyah adalah cermin yang memproyeksisikan nilai-nilai ideal yang telah mengacu di dalam jiwa manusia sebagai produk dari proses pendidikan.[6]
Oleh karena itu, jika kita membahas nilai-nilai pendidikan, akan jelas melalui rumusan dan uraian tentang tujuan pendidikan, sebab di dalam  rumusan tujuan pendidikan itu tersimpul dari semua nilai pendidikan yang hendak diwujudkan dalam pribadi peserta didik. Demikian pula, jika berbicara tentang tujuan pendidikan islam, berarti berbicara nilai-nilai ideal tercorak islami. Hal ini mengandung makna bahwa tujuan pendidikan islam adalah tujuan yang merealisasikan idealisme islam. Sedang idealitas islam itu sendiri pada hakikatnya adalah mengandung nilai prilaku manusia yang didasari atau dijiwaioleh iman dan taqwa kepada Allah sebagai sumber kekuasaan mutlak yang harus ditaati.[7]


[1] Sadullah Uyoh. Pengantar filsafat Pendidikan. Bandung. Alfabeta. 2011. Hlm. 189.
[2] Ibid. Hlm.189
[3] Ibid. Hlm. 193
[4] Siswanto. Pendidikan Islam Dalam Perspektif Filosofi. Pamekasan. 2013. Hlm. 48.
[5] Ibid. Hlm. 48
[6] Arifin. Filsafat Pendidikan Islam. Hlm. 119
[7] Ibid. Hlm. 119

Tidak ada komentar: