Selasa, 10 Maret 2015

Kebudyaan Seni Musik Ghul-Ghul Di Desa Buddagan Kec. Pademawu Kab. Pamekasan







A.      LATAR BELAKANG
     Madura adalah bagian dari kepulauan Indonesia yang terletak di sebelah timur suramadu dengan populasi penduduk berdasarkan data tahun 2010[1]
No
Keterangan
Bangkalan
Sampang
Pamekasan
Sumenep
1
Kecamatan
18
12
13
25
2
Kelurahan
11
6
5
4
3
Desa
273
180
178
328
4
Luas Area
1,260
1,152
733
1,147
4
Penduduk
907,255
876,950
795,526
1,041,915


   Dari data ini kalau dijumlahkan dari ke-empat kabupaten itu adalah 3,621,646 jiwa, dengan karakteristik yang berbeda-beda, sehingga dengan perbedaan karakter tesebut, maka terciptalah sebuah kebudayaan, yang beranika ragam budaya dalam kurun waktu yang berbeda pula. Di pulau Madura terdapat empat kabupaten, yaitu Kabupaten Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Dari ke-empat kabupaten itu, kita dapat menjumpai berbagai macam kebudayaan, seperti halnya kebudayaan kesenian music ghul-ghul yang dapat kita jumpai di Kabupaten Pamekasan tepatnya di desa buddagan kecamatan pademawu.      
     Kebudayaan lokal akhir-akhir ini tidak lagi banyak diminati oleh generasi muda, yang diakibatkan oleh perkembangan ilmu tehnologi yang memudahkan budaya-budaya asing dengan leluasa masuk dan munupang tindih kebudayaan lokal. Disamping itu, juga diakibatkan oleh kurangnya pemeliharaan akan budaya itu sendiri, baik dari masyarakat atupun dari pemerintah yang berwenang. Oleh karena itu, kami selaku generasi muda, pantas kiranya bagi kami untuk lebih dekat dan mengetahui lebih dalam tentang cikal-bakal keberdaan dan existentsi kebudyaan yang ada dipulau Madura ini khususnya di kebudayaan yang ada di Pamekasan. 
      

B.       ANALISIS PENELTIAN
1.      Sejarah Singkat Kesenian Musik Ghul-Ghul
Ghul-ghul merupakan budaya kesenian musik yang juga termasuk pada gamelan. Kata Ghul-ghul itu sendiri sebenarnya tidak mempunyai makna tetapi kata ghul-ghul tersebut hanya sebutan dari masyarakat setempat. Tetapi kesenian ghul-ghul masih termasuk pada kesenian yang didalamnya terdapat gamelan. Dimana Gamelan pada awalnya dibawa oleh aliran-aliran Sunan Kalijaga yang pertama kali menyebarkan agama islam lewat kesenian music. Gamelan pada masa itu dimainkan disebuah masjid dimana bagi yang ingin melihat atraksi gamelan tersebut mereka dapat membayarnya dengan membaca dua kalimat syahadat sebagai syarat untuk memasuki arena pementasan gemelan yang dipentaskan.
Seiring dengan kemajuan zaman yang semakin modern, budaya gamelan khususnya ghul-ghul disini sudah hampir mengalami kepunahan dengan masuknya musik-musik modern yang didukung dengan mudahnya media informatika dalam mempopulerkan budaya-budaya asing itu sendiri, sehingga budaya local yang cedrung gagap akan dunia informatika, akan semakin tak dapat dilihat. Tetapi dengan adanya partisipasi dan optimisme masyarakat pada kesenian ghul-ghul untuk membudayakannya, walaupun hanya sebgian saja dari kalangan masyarakat yang peduli dan mau berperan aktif sebagai pelaku dan pemilik dari kebudayaan itu sendiri. Maka sangat mungkin kebudayaan kita akan tetap dalam kebugaran.
Seperti penelitian yang sedang kami teliti saat ini yaitu Budaya Kesenian Musik Ghul-ghul di Desa Buddagan Kecamatan Pademamu Pamekasan. Budaya kesenian musik Ghul-ghul di Desa Buddagan sampai saat ini masih ada dan anggotanya semua masih exis, da masih lengkap, dimana ditambah dengan adanya pancak silat yang anggotanya masih segar-segar dan muda-muda.
Berdasarkan hasil research yang lakukan atas keberadaan budaya kesenian music ghul-ghul di Desa Buddagan Kecamatan Pademawu Kabupaten Pamekasan ini, ternyata kebudyaan ini mengalami beberapa metamorphosis, yang secara umum disebabkan karena adanya disstrukturalisasi. Adapun metamorphosis yang dimaksud yaitu:
a.      Fase Pertama
Pada fase pertama ini kesenian musik ghul-ghul yang ada di desa buddagan kecamatan galis ini dikenal dengan sebutan “Karang Taruna New Samporna Bhakti” adapun Sejaraha dari titik awal tumbuh berkembangnya kesenian ghul-ghul pada fase pertama ini kami tidak dapat memeberikan jawaban yang pasti tentang semua itu, karena dari beberapa nara sumber yang kami datangi tidak dapat memberikan jawaban pasti, kapan dan bagaimana kesenian ini datang serta bagaimana proses tumbuh berkembangnya ditanah gerbang salam ini. “kalau masalah titik awal  kapan kesenian ghul-ghul ini berdiri kami tidak tahu pasti, karena kami juga tidak mendapatkan informasi tentang hal itu, dikarenakan para pelakunya sudah wafat, sehingga kami juga kesulitan untuk mengetahuinya”. karena tidak ada informan yang tahu pasti tentang sejarah awal berdirinya kesenian ini, karena memang semua alumni dari karang taruna new samporna bakti tersebut sudah meninggal, dan ada pula yang pindah tempat.
b.      Fase Kedua
Karang Taruna New Samporna Bhakti adalah nama dari kesenian ghul-ghul di desa Buddagan saat pertama kali dibentuk sampai fase kedua masih belum ada perubahan mengenai nama, manun dari segi kepengurusan bisa saja berubah.
Kesenian musik ghul-ghul di Desa Buddagan Kecamatan Galis pada fase kedua ini berdiri sejak tahun 2008 setelah beberapa lama istirahat, yang diakibatkan oleh faktor kepengurusan yang sudah tidak lagi segar serta tidak adanya kaderisasi yang dapat membantu bertahannya budaya itu sendiri..
Setelah beberapa tahun Kesenian musik ghul-ghul di Desa Buddagan Kecamatan Galis terbentuk dan dengan masuknya atau perubahan zaman modernisasi, Kesenian musik ghul-ghul Karang Taruna New Sampurna Bhakti di Desa Buddagan Kecamatan Galis ini tersisihkan oleh musik-musik lain yang modern seperti orkes, gambus dan semacamnya, sehingga Kesenian musik ghul-ghul Karang Taruna New Sampurna Bhakti di Desa Buddagan Kecamatan Galis fakum kurang lebih selama satu tahun diam seribu kata, gong tidak lagi bergaung tepatnya pada tahun 2010.
c.       Fase Ketiga
Setelah selama kurang lebih satu tahun lelap dalam istirahatnya Kesenian musik ghul-ghul Karang Taruna New Sampurna Bhakti di Desa Buddagan Kecamatan Galis ini muncul kembali menampakkan batang hidungnya dengan anggota-anggota baru dan wajah-wajah baru serta tidak lupa juga tentunya dengan nama baru yaitu “Karang Taruna Cobra” pada tahun 2012.
Pada fase ketiga inilah kami memfokuskan penelitian kami. Mungkin dari fase pertama dan kedua, budaya Kesenian musik ghul-ghul di Desa Buddagan Kecamatan Pademawu ini tidak ada yang menarik, namun pada fase ini kami sangat antusias untuk lebih dalam mengetahui tentang Kesenian musik ghul-ghul yang ada di Desa Buddagan Kecamatan Pademawu ini. Pada saat kami mengadakan wawancara dengan pengurus Kesenian Musik Ghul-Ghul Karang Taruna Cobra Desa Buddagan, yang kebetulan pada saat kami mendatangi tempat pertunjukan berlangsungnya kesenian itu (17/03/2013/19:45), pengurus harian dari Kesenian Musik Ghul-Ghul Karang Taruna Cobra Desa Buddagan yang kebetulan pada saat itu hadir dalam acara itu, membantu kami untuk mendapatkan informasi lebih banyak tentang keberadaan Kesenian Musik Ghul-Ghul Karang Taruna Cobra Desa Buddagan.
Wawancara kami lakukan sekitar jam 23:00, karena kami harus menunggu selesainya acara, karena kami datang pada jam 19:45, kami tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk mendapatkan informasi tentang kesenian musik ghul-ghul ini dengan cara memperhatikan bagaimana dan apa isi dari kesenian itu sendiri. Kami juga meninkmati hidangan yang disuguhkan oleh tuan rumah dengan segelas fruite tea sambil menikmati tontonan atraksi dari para pemain pencak silat dari kesenian music ghul-ghul Desa Buddagan.
Yang tidak terpikirkan bagi kami sebelumnya adalah, adanya kolaborasi antara pemain dari kesenian itu sendiri, kesenian itu tidak hanya dimainkan oleh orang tua dan dewasa saja, namun anak-anak yang masih usia SD (laki-dan juga perempuan) bahkan ada yang masih kelas satu juga ikut andil dalam kesenian itu. Sepanjang pengalaman saya, kalau seni pencak silat pada umumnya dimainkan oleh orang-orang dewasa atau oaring tua. Namun lain halnya dengan kesenian music ghul-ghul desa buddagan yang mayoritas dimainkan oleh anak-anak, dan disela-sela istirahat saya (nadir) menyempatkan diri untuk berwawancara dengan salah seorang anak, namanya adalah Al-Farisi yang masih duduk dibangku kelas 4 SD. Berikut wawancara singkat kami:
Nadir “sampai jam berapa acara ini selesai dik”..?
Faris “sampai jam sebelas”
Nadir “adik tidak ngantuk kalo sampe` malem seperti ini”
Faris “tidak”
Nadir “kenapa adik suka ikut kesenian (pencak silat) ini”
Faris “yak arena senag aja”
Nadir “pasti disuruh sama orang tua ya..? ”
Faris “ya… karena mbah dan ayah saya juga ikut dulu”
Karena dia sibuk menyiapkan diri untuk berlaga akhirnya saya cukupkan wawancara saya dengan Faris.
Setelah asyik nonton pertunjukan selama sekian jam, akhirnya kami dapat mewawncarai informan, mereka adalah Arif Budiman (Penasehat), H. Abdussalam (Ketua) dan Moh Husni (wakil ketua). Sebagai tamu maka sebelum kami memulai wawancara bersama mereka, kami tidak segan untuk meminta maaf atas kedatangan kami yang mungkin saja mengganggu aktivitas mereka, dan kemudian kami lanjutkan wawancara kami. Berikut beberapa kutipan wawancara singkat kami dengan mereka:
Sebelum kami memulai wawancara dengan mereka, kami mengutarakan maksud kedatangan kami. Setelah mereka tahu bahwa kami datang untuk meneliti keberadaan budaya Madura, tiba-tiba bapak Moh Husni menyangkal pembicaraan kami. “kenapa baru sekarang diadakan penelitian tentang kebudayaan Madura, padahal kebudayaan ghul-ghul ini sudah lama ada.” Namun beliau sanagat berterima kasih dan sanagat senang bisa didatangi oleh kami, dan mereka tidak hanya berterima kasih kepada kami, mereka juga berterima kasih kepada pihak kampus STAIN Pamekasan, karena kami adalah orang pertama yang mau meneliti dan peduli atas budaya Madura (kebnudayaan music ghul-ghul);
Nadir            “sebenarnya apa arti dari ghul-ghul itu ya pak, hingga dipilih menjadi nama dari kesenian ini.? ”
Husni            “sebenarnya kata ghul-ghul itu hanyalah sebutan dari masyarakat atas kesenian ini, masyarakat lebih mengenal ghul-ghul dari pada karang taruna cobra, dan hal ini bukan hanya sekarang mas, tapi sudah sejak dulu”
R.A Budiman “basa indonesiana pencak silat, ghul-ghul ca` madurana” (menyambung jawaban pak Sutrisno).
Nadir            “kalau mengenai sejarah munculnya budaya ghul-ghul itu sendiri sejak kapan ya pak”..?
Husni            klo mengenai sejarah munculnya kebudayaan ini, sebenarnya sudah sejak dulu mas, namun kami tidak tahu persis kapan kebudayaan ghul-ghul ini muncul, ya dikarenakan para pelakunya sudah tidak ada jadi kami tidak bisa menanyakan kapan munculnya kebudayaan ini. Sehingga kebudayaan ghul-ghul ini sempat fakum. pada awal terbentuknya kebudayaan ghul-ghul hingga tahun 2008 nama dari pencak silat ini adalah Karang Taruna Sampuran Bhakti tapi dikarenakan sempat beberapa bulan fakum maka dibentuk kembali pada tahun 2009 dengan nama Karang Taruna New Sampurna Bhakti sampai tahun 2010. Dari tahun 2010 samapai tahun 2011 fakum lagi, pada tahun 2011 akhir kami berinisiatip unuk menghidupkan kembali, dan saya minta persetujuan dari bapak budi dan pak budi setuju akan tetapi naamanya harus dirubah jangan tetap memakai nama yang lama, “terus pake` apa pak budi Tanya saya pada beliau” dan akhirnya beliau merubah dengan Karang Taruna Cobra”
Nadir            “kenapa pemain dari kesenian ini lebih didominasi oleh anak-anak, apa yang melatar belakangi semua ini pak”.?
Husni            “kenapa kami lebih mengutamakan anak-anak yang masih dalam usia belia, karena kalo anak-anak itu kan usianya masih panjang, jadi harapan kami supaya mereka mempunyai kesempatan lebih lama untuk melestarikan kebudayaan ini.”
Nadir            “berarti pelaku utama yang ada didalam penbentukan kebudayaan ini adalah sampean bertiaga ya pak”
H. Abdussalam            “ia betul”
Nadir            “berarti bapak bertiga adalah pioneer dari terbentuknya kebudayaan ini” (dengan nada penuh senyum)
R.A Budiman  “ya kalo dikatakan pioneer si bukan, karena sebelum kami kebudayaan ini sudah ada yang membentuk, tapi kalo dibilang penggagas si ia” (setelah tertawa bersama-sama mendengar pertanyaan yang saya utarakan).
Terbentuknya kesenian Karang Taruna Cobra (pada fase ketiga) ini tidak semudah pada fase kedua, karena pada fase kedua hanya melanjutkan yang sebelumnya dengan pelaku yang sama, tapi berbeda pada fase ketiga ini. Pada fase ketiga ini ternyata ada beberapa hal yang harus dilakukan bahkan harus dengan pengurbanan demi terbentuknya kembali kebudayaan Ghul-ghul.
Mengenai hiruk pikuk perjalanan tiga serangkai demi terbentuknya kembali kebudayaan musik Ghul-ghul di Desa Buddangan Kec. Pademawu, kami secara terpisah mewawancarai bapak Husni di rumahnya (24/03/2013:19.30), dan beliau memberikan jawaban yang sangat memuaskan bagi kami;
 “kalo masalah proses terbentuknya karang taruna cobra ini, dilator belakangi oleh keterharuan saya ketika saya melihat alat-alat music ghul-ghul yang tidak dipakai. Oleh karena itu, saya selama satu minggu tampa henti menabuh alat-alat musik ghul-ghu dengan memakai loud speaker. Dan saya berharap masih ada orang yang peduli pada kebudayaan ini. Setelah seminggu berlangsung, akhirnya datang pak Budi (R.A Budiman) kemudian dia bertanya kepada saya “apa mau kamu.”.? saya menjawab. Saya ingin memnghidupkan kembali kesenian ini, dan Alhamdulillah dia setuju.”
dan beliau tidak hanya memberikan kami jawaban tapi beliau juga menyuguhkan kami pelepas dahaga, serta memutarkan dokumentasi pemintasan kesenian music ghul-ghul pada fase kedua.       
     Menabuh genndang selama seminggu menurut kami bukanlah hal yang mengasyikkan, kalau bukan demi cintanya pada budaya dan untuk mempertahankan kebudyaan madura, saya kira semua itu tidak mungkin mereka lakukan, apa lagi pada awal-awal mereka berjalan, tidak sedikit biaya yang harus dikeluarkan supaya kesenian ghul-ghul dapat dikenal oleh public. Bedasarkan penjelasan dari bapak Husni, supaya masyarakat lebih mengenal kebudayaan musik ghul-ghul, maka bapak husni dan kawan-kawan mementaskan kesenian  music ghul-ghul dalam berbagai even, diantaranya imtihanan di berbagai sekolah, PHBI dan sebagainya, dan mereka tidak memungut uang sepeserpun dari pertunjukan yang mereka lakukan.
     Karang Taruna Cobra yang merupakan reorgenisasi dari Karang Taruna New Sampurna Bhakti beranggotakan 47 orang termasuk didalamnya anggota pancak silat. Dimana dalam setiap kegiatan ini diadakan iuran sebesar 10.000,- bagi seluruh anggota dan bagi yang ingin mengadakan.
Budaya ghul-ghul ini selalu diadakan setiap malam minggu atau terkadang setengah bulan 1 kali. Dan biasanya tiap minggunya itu berpindah tempat artinya bagi yang mengadakan. Dan biasanya sebelum acara tersebut dimulai ada pemanasan-pemanasan terlebih dahulu yang dilakukan oleh Pembina pancak silat tersebut, selain itu juga sebelum acara mulai para anggota yang memainkan alat-alat music tersebut sudah memainkan alat-alatnya terlebih dahulu sambil menunggu pembukaan oleh ketua. Selain itu juga sebelum acara dimulai ada anggota yang akan mempersiapkan sarana-sarana lain atau alat-alat pendukung yang nantinya akan dipakai berupa senjata tajam, seperti pisau clurit dll. Mengenai proses selanjutnya tidak banyak proses yang harus dilakukan selain hal yang tiga diatas karena hal ini hanya semacam pertunjukan biasa.
Tetapi biasanya sebelum memasuki hari-ha atau acara tersebut, para anggota pancak silat yang tergabung dalam karang taruna cobra dilatih kemampuannya agar staminanya semakin kuat dan Fit. Latihan tersebut dilakukan sebanyak 1 minggu 3 kali agar para pemain-pemain juga bias belajar disiplin.
Pada saat pertunjukan berlangsung biasanya juga ada salah satu seseorang yang akan melemparkan/menaburkan uang ke tengah lapangan, artinya juga sebagai saweran dari para pemain yang nantinya itu juga sebagai hasil dari mereka. Yang tujuannya selain sebagai alat penyawer juga sebagai alat untuk menarik lawan yang nantinya akan saling berebut mendapatkan uang tersebut. Diakhir acara juga biasanya terdapat antraksi dari macan sebagai hiburan.
2.      Tujuan Kesenian Ghul-Ghul Karang Taruna Cobra
Tujuan diadakannya kembali budaya kesenian ghul-ghul tersebut Mengutip dari hasil wawancara  dengan Bapak Husni yaitu:
1.      Supaya terjalinnya silaturrahmi antar sesama saudara.
2.      Untuk Melestarikan Budaya Madura supaya tidak punah.
3.      Alat-alat Yang Digunakan
Beberapa alat yang digunakan sebagai pendukung budaya tersebut yaitu antara lain:
1.      Gendang
2.      Gennong
3.      Gong
4.      Senjata-senjata tajam (clurit, pisau, pedang dll)
5.      Tongkat
a.      Makna Dari Alat Kesenian Musik Ghul-Ghul
Makna dari salah satu alat yang digunakan dalam budaya music ghul-ghul disini jika di kaitkan dengan agama islam yaitu:
1.      Gendang : Makna dari gendang itu sendiri yaitu dalam bahasa madura “Pateppak-Pabendher” kemudian apa yang dimaksud “Pateppak - Pabendher” itu sendiri? Yakni jawabannya menurut Bapak Hosni “karena yang memukul gendang tersebut adalah jari-jari yang 5 maka dikaitkan dengan rukun islam yang 5, artinya kita harus benar-benar menjalankan rukun islam yang 5 tersebut”. Kita harus memperbaiki sholat yang tidak baik, melakukan pusa, membayar zakat dan termasuk juga yang lain.
2.      Gennong : Makna dari gennong itu sendiri yaitu dikaitkan dengan Rukun Iman yang enam, artinya kita harus yakin dengan adanya tuhan, malaikat, dan yang sudah tertera dalam rukun iman.
3.      Gong : Makna dari gong itu sendiri ada dua. Karena gong tersebut ada dua macam yaitu gong kecil dan gong besar.
4.      Makna Gong kecil : dalam bahasa Madura “Pabendher”
5.      Makna Gong besar : dalam bahasa Madura “Ongghuwen”
b.      Korelasi Antara Gerakan Pancak Silat Dengan Musik
Mengutip hasil wawancara Bapak hosni selaku wakil ketua dari acara tersebut beliau mengatakan bahwasanya hubungan antara pemain/gerakan pancak silat dengan musik yang dipakai tidak ada hubungan, tetapi hanya sebagai pengiringnya saja, supaya  atraksi kesenian itu lebih meriah dan mudah diketahui oleh orang.
C.       KESIMPULAN
Ghul-ghul merupakan Budaya kesenian musik yang salah satu alat musiknya adalah gamelan. Kata Ghul-ghul itu sendiri sebenarnya tidak mempunyai makna tetapi kata ghul-ghul tersebut hanya sebutan dari masyarakat setempat.
Seiring dengan kemajuan zaman yang semakin modern, budaya gamelan khususnya ghul-ghul disini sudah hampir mengalami kepunahan dengan masuknya musik-musik modern. Tetapi dengan adanya partisipasi dan optimisme masyarakat pada kesenian ghul-ghul tersebut ada sebagian dari mereka yang masih mau membudayakannya, walaupun tidak banyak yang penting masih ada yang mau membudayakan budaya loka.
Kebudayaan kesenian music ghul-ghul ini mengalami tiga fase:
a.      Fase Pertama
Pada fase pertama ini kesenian musik ghul-ghul yang ada di desa buddagan kecamatan galis ini dikenal dengan sebutan “KARANG TARUNA SAMPORNA BHAKTI” adapun Sejaraha dari titik awal tumbuh berkembangnya kesenian ghul-ghul pada fase pertama ini, tidak ada yang tau pastinya kapan kebudayaan ini ada.
b.      Fase Kedua
KARANG TARUNA NEW SAMPORNA BHAKTI adalah nama dari kesenian ghul-ghul di desa Buddagan pada fase pertama kali dibentuk sampai fase kedua hanya saja ada penambahan kata New saja.. Kesenian musik ghul-ghul di Desa Buddagan Kecamatan Galis pada fase kedua ini berdiri sejak tahun 2008 setelah beberapa lama istirahat (dari fase pertama) sampai 2010.
c.       Fase Ketiga
Setelah selama kurang lebih satu tahun lelap dalam istirahatnya Kesenian musik ghul-ghul Karang Taruna New Sampurna Bhakti di Desa Buddagan Kecamatan Galis ini muncul kembali menampakkan batang hidungnya dengan anggota-anggota baru dan wajah-wajah baru serta dengan nama baru yaitu “KARANG TARUNA COBRA” pada tahun 2011 hingga sekaran masih dapat kita jumpai.
Dari kebudayaan ini, satu hal yang dapat kami tekankan bagi para pembaca, bahwasanya kebudayaan music ghul-ghul pada fase ketiga ini lebih memanfaatkan generasi muda yang masih dalam masa adaptasi dengan lingkungan sekitar, sehingga kesempatan serta kelestarian budaya ini cukup panjang dan minim peluang untuk terjadinya kepunahan.

Tidak ada komentar: