Selasa, 10 Maret 2015

MASUKNYA AGAMA ISLAM DI MADURA

Datangnya Agama Islam di Pulau Jawa bertepatan masih jayanya Majapahit yang saat itu dipimpin oleh Raja Hayamwuruk Rajasanegara atau Brawijaya ke-IV dengan patihnya yang bernama Gajah Mada. Saat itu raja merupakan juga pemimpin, karena itu sejalan dengan kemasyhuran Hayamwuruk dan Gajah Mada yang beragama Budha, agama Budha pun menjadi kuat perkembangannya dalam masyarakat. Saat seperti itu Agama Islam bagi  Rakyat masih merupakan agama pendatang baru yang dibawa para pedagang dari Gujarat di India dan pedagang Cina yang datang melalui Campa. Agama Islam masuk Madura.
Dalam fakta yang ada dalam historiografi masuknya Agama Islam ke Madura sangat sulit ditemukan namun data dari sumber tradisi lisan yang hampir selalu digali melalui wawancara. Dengan demikian sentesis dilakukan dengan mengusut dan menarik hubungan intrinsik atas fakta berdasarkan teori kecocokan.
Di antaranya yang memerintah di Madura (Pamadekan, Sampang) yaitu yang bernama Bondan Kejawan atau Lembu Petteng. Walaupun disebut-sebut bahwa Lembu Petteng beragama Islam, namun putera-puteranya tak seorangpun yang menganut Agama Islam, putera-putera Lembu Petteng tersebuut cenderung mentaati keinginan ibunya yang masih beragama Budha. Karena itulah kemudian Lembu Petteng meninggalkan posnya di Madekan pergi ke Ampel untuk mengabdi kepada Sunan Ampel.
Dari Lembu Petteng inilah keturunannya menyebar kedaerah Madura Barat yang kemudian dikenal sebagai Raden Pratanu raja di Arosbaya dan Ronggosukowati raja Pamekasan. Beberapa data dari sumber tradisi lisan dan tulis tentang masuknya Agama Islam ke Madura dapat disebutkan antara lain:
Disebutkan bahwa keponakan Lembu Petteng yang bernama Aryo Menaksunoyo, putera dari Ki Aryo Damar membuka daerah baru yang saat ini kita kenali bernama Proppo. Di kemudian hari dua keluarga bersaudara seayah tersebut (Lembu Petteng dan Aryo Damar) bersatu dalam pernikahan dari keturunan mereka. Ki Aryo Pojok  keturunan  ke-4 dari Aryo Damar di Madura menikah dengan Nyi Ageng Budho puteri Aryo Pratikel atau cicit dari Lembu Petteng. Dari pernikahan ini lahir seorang putera yang kemudian menjadi demang di Plakaran (Daerah barat laut dari Pamadekan), karena itu beliau disebut Ki Demang Plakaran. Ki Demang Plakaran ini mempunyai putera diantaranya ada yang bernama Aryo Pragolbo yang disebut juga Pangeran Plakaran dan diantara putera Pragolbo ada yang bernama Raden Pratanu dan Raden Pramono. Raden Pratanu kemudian menjadi raja di Arosbaya  dan Raden Pramono kemudian menikah dengan Nyi Banu Ratu Pamelingan puteri dari Ki Aryo Mengo. Dari perkawinan ini lahirlah seorang laki-laki yang diberi nama Pangeran Nugeroho yang kemudian menjadi raja Pamelingan. Beliau mempunyai beberapa orang putera dan puteri salah seorang puteranya diangkat menjadi adipati di Pamadekan. Puteranya yang lain bernama Raden Aryo Seno oleh kakandanya, adipati Pamadekan diangkat menjadi rangga, karenanya Raden Arya Sena lalu dikenal bernama Pangeran Rangga yang kemudian menjadi raja di Pamelingan dan  bergelar Ronggosukowati.
Dalam bukunya yang berjudul Kerajaan Islam Pertama di Jawa, HJ.De Graaf & TH.Pegeaud menulis antara lain tentang Madura sebagai berikut :
“ Adanya hubungan dengan jatuhnya kerajaan kafir Majapahit lalu menjadi lebih masuk akal, apabila cerita tutur Madura Barat tentang masuk Islamnya raja Islam pertama benar. Karena mimpi putera mahkota, seorang patih Madura bernama Empu Bagna diutus ke Jawa Tengah untuk mengetahui seluk-beluk keadaan di sana. Ia menyerah kepada Sunan Kudus untuk diislamkan dan sekembalinya di Madura Barat ia dapat menggerakkan hati tuannya sang putera mahkota, untuk berbuat demikian pula ”
Di buku lain, buku R. Zainal Fatah, tulisan yang berkaitan dengan masuknya Agama Islam ke Madura, beliau menulis sebagai berikut :
“ … yaitu Kiyai Pratanu, beliau sangat dicintai oleh ayah-bundanya. Beliau diperkenankan  mendirikan sebuah rumah di tanah ayah-bundanya dengan didiami sendiri. Pada suatu malam beliau bermimpi mendapat tamu seorang asing yang mengaku dirinya bernama Sayyid Magrabi menyuruh kepada beliau supaya beliau memeluk Agama baharu yaitu Islam sedang guru yang dapat memberi pelajaran itu agama ialah Sunan Kudus “
Raden Zainal Fatah dalam bukunya sebagai berikut :   
“ Di jaman Kudho Panule diceritakan bahwa di suatu daerah di dekat desa Sumursongo (Parsanga) di Sumenep ada datang seorang penganjur agama Islam kepada rakyat di Sumenep. Apabila seorang murid (santri) telah dapat dianggap melakukan rukun Agama Islam, maka ia lalu diberi mandi air dengan dicampuri rupa-rupa bunga yang harum baunya. Melakukan secara mandi demikian oleh orang Madura di namai  êdhudhus artinya diberi adus artinya diberi mandi. Dari sebab itu maka itu tempat disebut orang Desa Padhusan. yang sekarang menjadi nama kampung di desa Pamoloan, Kota Sumenep, Guru yang memberi pelajaran agama itu lalu disebut juga Sunan Padhusan, ia asal turunan Arab, akan tetapi telah memakai nama Jawa yaitu Raden Bandara Diwiryopodho. Ia punya ayah bernama Usman Haji anak dari Raja Pandita alias Sunan Lembayung Fadal yaitu anak dari Makdum Ibrahim Hasmoro yang disebut orang Maulana Jamadul Akbar‘ Ini orang beristri seorang putri Cina yaitu saudara muda puteri Cempa permisuri raja Majapahit yang penghabisan”.
Dalam cerita tutur yang lain, Diwiryopodo, bernama Pangeran Katandur, ada juga yang menyebut Pangeran Satandur. Katandur sendiri bermakna ahli pertanian, memang kedatangan Pangeran Katandur  tersebut sebagai orang yang mengerti ilmu pertanian ingin membantu rakyat Sumenep dalam bercocok tanam. Saat itu Sumenep mengalami kemarau panjang sawah tidak menghasilkan padi, karena sawah tidak berair lagi. Namun Pangeran Katandur mengajari para petani bertanam tanaman pangan dari jenis bukan padi seperti umbi-umbian dan kacang-kacangan. Selain itu Pangeran Katandur memikul tugas dari kakeknya untuk menyebarkan Agama Islam kepada masyarakat Sumenep. Sebenarnyalah Pangeran Katandur itu cucu dari Sunan Kudus nama aslinya adalah Sayyid Ahmad Baidowi yang meninggal di Sumenep yang di nisannya tertulis angka tahun Saka 1248 S atau 1412 M.
Di daerah kecamatan Proppo juga ada legende yang hidup dalam masyarakat, yaitu legende Buju’ (Buyut) Kasambhi. Buju’ Kasambhi ini nama aslinya adalah Kiai Abdulmanan beliau seorang mubaligh Agama Islam yang datang dari Giri, Gresik ke Madura, masih satu marga dengan Syeh Sayid Yusuf yang kuburannya dikeramatkan orang di Pulau Puteran, yang letaknya berhadapan dengan Pelabuhan Kalianget di Kabupaten Sumenep yaitu marga Al-Anggawi. Mula-mula beliau berdakwah di daerah Sampang di (desa?) Salarom (daerah kecamatan Omben), kemudian pindah ke Bira di pesisir utara Sampang (Ketapang) di situ Sang Mubaligh menikah dengan orang setempat dan berputera seorang yang kemudian oleh masyarakat setempat  putera tersebut dikenal sebagai Buju’ Birâ. Dari Bira Kiai Abdulmanan pindah lagi ke Kampung Kobasan di desa Pangbhâtok kecamatan Proppo kabupaten Pamekasan.
Bila kita teliti kisah atau legende-legende tersebut di atas, sesungguhnya merupakan kisah masuknya serta pengembangan Agama Islam di Madura. Sebenarnya sangat banyak tempat pengembangan tersebut di seluruh Madura hal tersebut kini bisa terlihat banyaknya pesantren di seluruh Madura yang penulis tidak menyebutkan di sini nama-nama dan jumlah pesantren tersebut. Namun yang jelas menurut hasil penelitian DR. H. Moh. Kosim, M.Ag dari STAIN Pamekasan di Pamekasan tahun 1515 sudah ada pesantren yaitu Pesantren Sombher Anyar Tlanakan yang dipimpin oleh Kiai Syuber dan beliau juga mengajar keluarga Kraton Pamelingan karena itu beliau disebut Kèyaè Rato. Pesantren Somber Anyar hingga saat ini masih berjaya. Dengan demikian diperkirakan pada perempat abad terakhir ke-16 Islam sudah tersebar di Madura, hal ini untuk mendirikan sebuah pesantren di suatu tempat yang semula masyarakatnya penganut Budha tentu memerlukan waktu yang cukup lama, lebih dari itu dalam catatan Madura daerah Pamekasan penduduknya paling akhir memeluk  Agama Islam dibandingkan dengan daerah lainnya di Madura. Katakanlah berdasar dari berbagai kutipan tersebut di atas ditambah dengan adanya legenda yang merakyat tentang  Kiai Abdulmanan dari Giri, maka kita bisa memahami bahwa Islam masuk Madura pada jaman Sunan Kudus dan jaman Sunan Giri, sekaligus bisa kita menganggap bahwa sejak jaman walisanga Islam sudah masuk ke Madura.
Pada tahun 1530 Panembahan Banurogo wafat dan Raden Aryo Sena alias Pangeran Rangga menggantikannya. Pelantikan Pangeran Ronggo dilaksananakan pada tanggal 12 Rabiul Awal 937 H atau pada tanggal 3 Nopember 1530. Beliau dilantik oleh Ulama spiritual kerajaan bernama Kiai Tasyrib. Setelah pelantikan beliau bergelar Panembahan Ronggosukowati. Dengan demikian sebutan Rangga masih beliau pakai lebih dari itu masyarakat  di Pamadekan masih menyebut beliau Pangeran Rangga. 
Pada jaman Ronggosukowati pusat kerajaan yaitu kraton dipindah ke bagian  barat kraton Pamelingan, beliau membuat kraton baru yang diberi nama Kraton Mandhilaras, Mandhilaras bermakna kedamaian dan kemulyaan. Sedangkan kerajaan Pamelingan dengan nama Pamekasan. Lokasi kraton Mandhilaras saat ini ialah di lokasi Kantor Bakorwil Madura yang diapit oleh jalan Slamet Riadi di selatan, jalan Agussalim di bagian Timur dan di utara jalan Pongkoran. Sedangkan di sisi barat adalah perkampungan, yaitu Kampung Pongkoran dan Kampung Gheddhungan. Sedangkan Jalan Mandhilaras sendiri sebenarnya hanya  merupakan cabang dari Jalan Pongkoran Pada saat pemerintahan Ronggosukowati, pemerintahannya dinilai sudah memenuhi syarat sebagai sebuah pemerintahan dari sebuah Negara. Kerajaan Pamekasan telah tersusun dari berbagai kebutuhan bagi kepentingan sebuah pemerintahan seperti adanya asrama tentara / prajurit yang masa sebelumnya prajurit dikumpulkan hanya bilamana ada perang. Pasar juga di adakan untuk mendukung perekonomian rakyatnya walaupun saat itu masih lebih banyak dilakukan system barter. Selain pasar, penjara yang lebih manusiawi (dibangun di atas permukaan tanah yang sebelumnya di bawah tanah) dibangun, saat ini lokasinya di komplek Perpustakaan Umum Kota Pamekasan. Tempat beribadah juga dibangun sesuai dengan Agama yang dianut Raja Ronggosukowati yaitu Islam, maka beliau membangun sebuah mesjid yang dinamakan Masèghit Rato, yang terletak di tepi sungai tidak jauh dari kraton Mandilaras. Tempat dekat sungai sangat tepat karena masjid harus dibangun dekat air yang kepentingannya diperlukan terus-menerus karena sebelum sholat diharuskahn berwudlu / bersuci. Masèghit Rato (Masjid Raja) diperkirakan sama bahan pembuatannya dengan masjid Sunan Giri yang mula-mula yaitu terbuat dari kayu dan beratap rumbia. Masjid-masjid seperti itu terus di bangun di daerah kekuasaannya yang saat ini Masèghit Rato telah menjadi Masjid Agung Asy-Syuhada’  setelah pembangunan masjid dilakukan dengan tipe bangunan besar, masjid dari kayu beratap rumbia tersebut lalu disebutnya langgar / langghâr hingga saat ini sangat banyak di Madura di tempat yang berbeda di Madura sering disebut kobhung.

Tidak ada komentar: