Selasa, 06 Maret 2012

UNAS ANTARA EKSISTENSI PENDIDIKAN DAN JURANG PERADABAN


 
Tanggal 16 april yang akan dating adalah awal dari seuah penantian bagi kalangan pelajar, semuanya so pasti degdekan menghadapinya entah itu siswa sebagai pemeran utamanya, baik pemeran pendukungnya siapa dia..? siapa lagi kalau bukan siguru yang disebut-sebut sebagai pahlawan tanpa jasa. Keanihan muncul dalam pelaksanaan UNAS, siswa yang tidak begitu aktif dalam kelas semasa pembelajaran berlangsung ternyata nilainya lebih unggul dari pada siswa yang aktif dalam kelas, bukan hanya itu saja, lebih parahnya lagi mereka bahkan tidak lulus. Lantas siapakah yang harus kita slahkan dalam hal ini, apakah siswa sebagai pemeran utama, ataukah guru yang sebagai pemeran pendamping, atau pemerintah yang sebagai sutradara..? semuanya saya pasrahkan kepada anda bagaimana anda menilai. Saya memilih judul unas antara eksistensi pendidikan dan jurang peradaban ini bukan semata-mata dating dari halusinasi saya peribadi, namun saya piker itu adalah fakta yang harus kita sadari bersama bahwa UNAS itu bukanlah akhir dari peruses kita dalam mencari ilmu. Tidak reliven rasanya jika saya hanya berkomentar dengan tampa adanya alasan, maka dari itu saya akan menceritakan apa yang saya alami pada detik-detik diri ini ingi menjadi seorang Abiturien.    
Pada tanggal 05 Maret 2010, saya bersama taman –teman melaksanakan UNAS tingkat SMA. Semua teman-teman saya pada deg-dekan, dan kami mengamalkan amalan yang diberikan oleh guru kami, yang khasiatnya katnya dapat merubah jawaban yang salah menjadi benar dalm komputer. Hebatkan...! dalam keadaan genting seperti itu siapa yang tidak mau melakukannya, yang penting lulus. Satu minggu dari dari pelaksanaan UNAS suasana berubah, kalau sebelumnya asa motivasi supaya belajar dengan tekun, bahkan menakut-nakuti bagi yang malas belajar dikhawatirkan tidak lulus, ternyata motivasinya lain, kita malah diberikan terik-terik bagaimana kita mengendalikan kelas dan menterasfer jawaban dengan jitu.
Begitulah liku-liku UNAS yang saya hadapi, dan bukan hanya disekolah saya saja yang berbuat seperti itu, dari sekian banyaknya sekolah dinusantara ini kalau memang ada yang melakasanakan UNAS dengan riel, mungkin perbandingannya 1:1000. Jadi tidaklah heran jika dalam satu sekolah ada yang tidak lulus, yang diakibatkan oleh kesalahan dalam mendistribusikan jawaban. Yang kode soalnya A ternyata menerima jawaban kode soal B, sehingga mengakibatkan ketidak lulusan siswa.
Saya akui, UNAS memang alat yang jitu bagi negara kita dalam mempopulerkan pendidikan. Sekolah, dimana siswanya mendapatkan nilai tertinggi akan menjadi sorotan media massa, sehingga sekolah tersebut mendadak terkenal. Dibalik popularitas itu, mereka (Guru) bukan tidak sadar bahwa mereka telah mnyalah fungsikan lembaga pendidikan, yang mulanya sebagai wadah pencipta generasi muda yang berbudi pekerti, mempunyai moral serta memilik segudang segudang peradaban, berubah menjadi lembaga yang mencetak generasi muda yang tidak beradab, serta tak bermoral. Lembaga pendidikan dijadikan sebagai jurang peradaban. Kenapa demikian..? Hasil reseach PGRI menyatakan, bahwa “jika UNAS itu dilaksanakan secara sportive dan obyective, maka yang lulus hanyalah 40-50% saja” tapi mengapa hasil riseach PGRI tersebut berbanding terbalaik dengan realita yang ada..? itulah permasalahannya. Selama UNAS dilaksanakan secara kucing–kucingan, maka hal itu tidak akan pernah sama dengan realit. Dari sini sudah bisa kita tebak, kecurangan-kecurangan yang diperbuat oleh para pelakasana pendidikan dalam perjalanan UNAS. Dari awal mereka menanamkan benih-benih kehudupan, keilmuan, namun dipenghujung mereka malah meracuni mereka dengan kecurangan, serta perilaku tak bermoral. Secara biologis, masa remaja adalah masa diamana mereka berada dalam tahap perubahan mental, timbulnya rasa keingintahuan, meniru, serta emosional, sehingga tidaklah heran jika rasa hormat kepada orang tua, guru  semakin terkikis dalam peribadi-peribadi generasi bangsa. Semua itu berawal dari racun yang diberikan oleh lembaga pendidikan kepada mereka, mereka diajarkan ketidak disiplinan yang mengakibatkan adanya menyimpangan sosial, konvoi, arak-arakan, dan sebagainya. UNAS tidak hanya berakibat buruk pada siswa, namun Guru sebagai cermin kehidupan mereka akan kehilangan kredibelitas, dengan kurangnya rasa hormat dari siswa kepada mereka, hal ini terjadi karena para siswa menganggap bahwa cermin yang mereka miliki tidak lagi cemerlang, hingga timbullah kerisis kepercayaan bagi siswa kepada guru-guru mereka.
Saya tidak tahu siapa yang harus saya salahkan dan kepada siapa saya harus mengadu, namun saya berharap kepada semua kalangan baik pemeran utama, pemeran pembantu serta sang sutradara yang sangat tahu akan alur UNAS ini, saya mohon, do the best for this nation…..!   

Tidak ada komentar: