Minggu, 04 Maret 2012

KETERAMPILAN MEMBACA


KATA PENGANTAR

 Assalamualaikum Wr. Wb.
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat, taufik, serta hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini dengan tepat waktu. Shalawat serta salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW yang telah membawa kita dari alam kegelapan menuju alam yang terang benderang seperti suasana saat ini. Tujuan pembuatan makalah ini yaitu untuk memenuhi tugas mata kuliah Bahasa Indonesia yang telah dibimbing oleh dosen mata kuliah Bahasa Indonesia.
Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada segenap yang sudah membantu dalam pembuatan makalah ini yaitu kepada kelompok kami, teman-teman mahasiswa, orang tua kami, serta dosen pembimbing kami yang telah mendoakan dan memberikan motivasinya kepada kami sehingga pembuatan makalah ini selesai dengan tepat waktu dan tanpa halangan suatu apapun.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih terdapat kekurangan dan kekhilafannya. Oleh karena itu, kepada para pembaca kami mohon saran dan kritiknya yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah selanjutnya.
Wassalamualaikum Wr. Wb
     Pamekasan, 24 Desember 2010
Penulis,

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .........................................................................................  i   
HALAMAN PENGESAHAN ...........................................................................  ii  
KATA PENGANTAR ....................................................................................... iii
DAFTAR ISI ......................................................................................................  iv
BAB I : PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang................................................................................... 1  
B.     Rumusan Masalah.............................................................................. 3
C.     Tujuan pembahasan............................................................................ 3
D.    Manfaat Penulisan.............................................................................. 4
BAB II : KAJIAN TEORI DAN PEMBAHASAN
A.    Pengertian Bahasa Indonesia ............................................................ 5
1.      Pengertian beberapa istilah Bahasa Indonesia ............................  5
2.      Bahasa Indonesia pasca proklamasi ............................................ 7
3.      Fungsi Bahasa Indonesia ............................................................. 7
4.      Periodisasi sastra Indonesia ......................................................... 8
B.     Keterampilan Membaca..................................................................... 10
1.      Pengertian keterampilan membaca .............................................. 10
2.      Tujuan membaca ......................................................................... 11
3.      Efektifitas membaca .................................................................... 12
4.      Pengetahuan tentang teknis membaca ......................................... 13
5.      masalah umum dalam membaca ................................................. 14
6.      Tipe-tipe pembaca yang tidak efisien ......................................... 15
7.      Pandangan yang salah dalam membaca ...................................... 17
BAB III : PENUTUP
A.    Kesimpulan........................................................................................ 19
B.     Saran .................................................................................................. 20
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................... 21
LAMPIRAN ....................................................................................................... 22

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Membaca sebagai bagian pembelajaran bahasa. Meskipun dewasa ini ada puluhan teknik pengajaran bahasa dilontarkan dan dikenalkan oleh pakar pendidikan dan pengajaran bahasa, tampaknya elemen dasar pendidikan bahasa secara tradisional tetap tidak dapat dibuang begitu saja. Elemen dasar seperti mendengarkan, berbicara, membaca, menulis dan seringkali juga menerjemahkan, tetap menjadi bagian tidak terpisahkan dalam teknik pengajaran bahasa yang mana saja. Salah satu aspek elemen dasar kegiatan pembelajaran bahasa, khususnya yang berhubungan dengan kegiatan membaca, yaitu aspek mekanis kegiatan dan kemampuan membaca.
Salah satu unsur penting dalam menejemen diri adalah membangun kebiasaan untuk terus menerus belajar atau menjadi manusia pembelajar yang senantiasa haus akan informasi dan pengetahuan. Tidak peduli berapapun usia kita, jika kita berhenti belajar berarti kita sudah tua, sedangkan jika senantiasa belajar kita akan tetap awet muda. Karena hal yang terbaik didunia akan kita peroleh dengan memelihara pikiran kita agar tetap muda. Salah satu cara yang paling efektif untuk belajar adalah dengan membaca. Namun sayangnya sebagian besar kita tidak pernah punya waktu untuk membaca. Alasan utama yang sering kita sampaikan adalah kesibukan pekerjaan. Kita terjebak dalam rutinitas dan tekanan pekerjaan sehingga tidak memiliki kesempatan untuk mengasah kemampuan kita.
         Membaca merupakan salah satu cara kita untuk memperbaiki dan meningkatkan efektifitas diri kita. Meskipun kita memiliki “keterbatasan waktu”, kita tetap perlu mengasah kemampuan kita. Caranya adalah dengan menguasai cara membaca yang efektif sehinggga waktu yang kita gunakan menjadi efisien. Kita hidup dalam zaman di mana kita setiap hari dibanjiri buku baru tentang topik yang kita sukai atau yang berkaitan dengan bidang pekerjaan kita. Membaca biasa menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus menjengkelkan. Padahal kita semua tahu bahwa membaca sama halnya dengan kita menikmati pertunjukan konser atau film yang bagus.
         Membaca melibatkan partisipasi aktif kita. Seluruh emosi, hasrat dan minat kita juga harus terlibat dalam proses membaca, sehingga membaca menjadi pengalaman yang menyenangkan. Dengan keterbatasan waktu yang kita miliki, bagaimana kita dapat mengembangkan kemampuan membaca secara efektifsehingga dengan tenggang waktu yang sama, kita bisa mengambil inti dari lebih banyak buku. Kecuali untuk buku fiksi atau sastra yang memang ingin kita nikmati jalan cerita, emosi, dan rangkaian kata-katanya.
         Namun sebelumnya kita perlu mengenali berbagai tipe gaya belajar seseorang, yaitu:
a.  Visual
         Belajar melalui melihat sesuatu. Kita suka melihat gambar atau diagram. Kita suka pertunjukan, peragaan atau menyaksikan video.
b. Auditori
         Belajar melalui mendengar sesuatu. Kita suka mendengarkan kaset audio, ceramah kuliah, diskusi, debat dan instruksi verbal.
c. kinestetik
Belajar melalui aktifitas fisik dan keterlibatan langsung. Kita suka menangani, bergerak, menyentuh dan merasakan atau mengalami sendiri.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian dari Bahasa?
2.      Apa yang dimaksud dengan keterampilan membaca?
3.      Apa tujuan dari membaca?
4.      Apa saja yang terdapat dalam efektifitas membaca?
5.      Apa sajakah masalah yang terdapat dalam membaca?
6.      Ada berapakah tipe-tipe pembaca yang tidak efisien?
7.      Bagaimanakah pandangan yang salah dalam membaca?
C.  Tujuan Pembahasan
1.      Mengetahui pengertian dari Bahasa.
2.      Ingin mengetahui maksud dari keterampilan membaca.
3.      Mengetahui tujuan membaca.
4.      Dapat mengetahui efektifitas membaca.
5.      Mengetahui masalah yang terdapat dalam membaca.
6.      Dapat mengetahui tipe-tipe pembaca yang tidak efisien.
7.      Mengetahui pandangan yang salah dalam membaca.
D.    Manfaat Penulisan
Dalam rangka pembuatan makalah ini kami selaku penyusun makalah bermaksud supaya para pembaca atau pun mahasiswa dan mahasiswi yang lainnya dapat mengetahui bahwa kegiatan membaca itu sangatlah penting dan bermanfaat bagi diri kita dan untuk memperluas wawasan kita serta mengkaji lebih dalam kemampuan kita dalam aspek membaca.
BAB II
KAJIAN TEORI DAN PEMBAHASAN

A.    Pengertian Bahasa Indonesia
Bahasa merupakan sarana atau alat komunikasi bagi manusia untuk berinteraksi antar individu dengan individu, kelompok dengan kelompok, atau antar individu dengan kelompok.
Adapun pengertian Bahasa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) secara linguistik adalah suatu sistem lambang bunyi yang arbitrer (berwewenang), yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi dan mengidentifikasikan diri.[1]

1. Pengertian beberapa istilah Bahasa Indonesia
a. Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional / Persatuan dan Kesatuan
         Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional didasarkan atas keputusan sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 yang berbunyi.[2]
Kami putra dan putri Indonesia                                     
Mengaku bertumpah darah satu
Tanah air Indonesia
Kami putra putri Indonesia
Mengaku berbangsa satu
Bangsa Indonesia
Kami putra dan putri Indonesia
Menjunjung bahasa persatuan yang satu
Bahasa Indonesia
         Dari pengakuan para pemuda yang diaktualisasikan dalam sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 menandakan bahwa bahasa yang kita miliki (Bahasa Indonesia) merupakan suatu bahasa yang menjadi kebanggaan tersendiri bagi warga negara Indonesia yang disepakati secara bersama-sama sehingga menjadi lambang bagi negara kita. Bahasa Indonesia juga menjadi pemersatu berbagai masyarakat mulai dari Sabang sampai Merauke dengan perbedaan latar belakang sosial, budaya etnis, ras dan juga agama (multi kultural), mereka dapat bersatu padu dalam satu ucapan bahasa yaitu Bahasa Indonesia.
b. Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Resmi / Bahasa Negara
         Kedudukan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Resmi / Bahasa Negara tercantum dalam UUD’45 Bab XV pasal 36 yang berbunyi:[3]
“Bahasa Resmi adalah Bahasa Indonesia”
         Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada bahasa lain selain Bahasa Indonesia yang harus digunakan dalam ceremonial-ceremonial resmi kenegaraan, walaupun di negara kita terdapat berbagai macam bahasa. Kita wajib menggunakan Bahasa Indonesia sebagai pengatur pendidikan, sebagai bahasa dalam melaksanakan tugas kenegaraan tingkat Nasional dan dalam upaya pelestarian dan pengembangan kebudayaan serta dalam memanfaatkan tekhnologi modern.
         Kita bangsa Indonesia harus bersyukur dan bangga memiliki Bahasa Nasional dan Bahasa Resmi / Bahasa Negara, oleh sebab itu kita harus memelihara dan meningkatkan Bahasa Indonesia sesuai dengan kedudukan dan fungsinya. Untuk itu mari kita berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.

2. Bahasa Indonesia pasca proklamasi
         Perkembangan bahasa pasca proklamasi dapat kita lihat dari penulisan sastra yang merujuk kearah kesederhanaan dalam gaya bahasa dan pemadatan dialog. Derama kontemporer disebut juga angkatan 70-an berkembang lebih pesat baik dari segi tema maupun segi bentuk pemitraan. Tema yang diambil berhubungan dengan sosial budaya dan politik, dan berbentuk khusus, dikarang dan disusun untuk dipertunjukkan diatas pentas oleh pelakunya.
         Perkembangan ini juga didukung dengan diadakannya perlombaan penulisan naskah derama setiap tahun oleh Dewan Kesenian Jakarta. Dan pementasan pun tidak terikat diatas panggung tetapi juga melalui media televisi.
Tokoh-tokoh pengarang derama yang terkenal pada angkatan ini antara lain:[4]
-    Putu Wijaya dengan karyanya Aduh, Dag Dig Dug, Sssst, dll.
-    W. S. Rendra dengan karyanya Kereta Kencana Sepeda, dll.
-    Arifi C. Noer dengan karyanya Kasih Kita.

3. Fungsi Bahasa Indonesia
         Sesuai dengan hasil seminar politik Bahasa Indonesia yang bertempat di Jakarta pada tanggal 25-28 Februari 1975 yaitu Bahasa Indonesia berfungsi sebagai berikut:
a. Dalam kedudukannya sebagai Bahasa Nasional, Persatuan dan Kesatuan berfungsi:[5]
-    Sebagai kebanggan nasional
-    Sebagai lambang identitas nasional
-    Sebagai alat pemersatu berbagai masyarakat yang multi kultural
-    Sebagai penghubung antar budaya dan antar daerah
b. Dalam kedudukannya sebagai Bahasa Resmi / Bahasa Negara berfungsi:[6]
-    Sebagai Bahasa Resmi Negara
-    Sebagai bahasa pengantar di lembaga-lembaga pendidikan
-    Sebagai Bahasa Resmi dalam perhubungan tingkat Nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan dan pemerintah.

4. Periodisasi sastra Indonesia
         Periode dalam kesusasteraan adalah bagian dari perkembangan kesusasteraan itu sendiri dengan berbagai cirinya. Beberapa penulis buku pelajaran sastra, membagi zaman sastra Indonesia menurut pandangannya masing-masing.[7]
a.  Menurut Ajip Rosidi
Ø  Masa kelahiran atau masa kejadian
-    Periode awal abad XX 1933
-    Periode 1933 - 1942
-    Periode 1942 - 1945
Ø  Masa perkembangan (sejak ’45 hingga kini)
-    Periode 1945 - 1953
-    Periode 1953 - 1960
-    Periode 1961 – kini
b. Menurut H. B. Jasin
Ø  Sastra melayu lama
Ø  Sastra Indonesia modern
-    Angkatan 20
-    Angkatan 33 atau pujangga baru
-    Angkatan 45
-    Angkatan 66
c.  Menurut J. S. Baduch
Ø  Kesusteraan lama dengan angkatan lama
-    Kesusasteraan masa purba
-    Kesusasteraan masa Hindu Arab
Ø  Kesusasteraan peralihan dengan angkatan peralihan
-    Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi
-    Angkatan balai pustaka
Ø  Kesusasteraan baru dengan angkatan baru
-    Angkatan pujangga baru
-    Angkatan modern (angkatan 45)
-    Angkatan muda
d.                   Menurut Sabaruddin Ahmad
Ø  Kesusteraan lama
-    Dinamisme
-    Hinduisme
-    Islamisme
B.     Keterampilan Membaca

1.      Pengertian keterampilan membaca
         Keterampilan membaca adalah aktifitas yang kompleks yang melibatkan berbagai faktor yang datangnya dari dalam diri pembaca dan faktor luar. Selain itu, keterampilan membaca juga dapat dikatakan sebagai jenis kemampuan manusia sebagai produk belajar dari lingkungan, dan bukan kemampuan yang bersifat instingtif, atau naluri yang dibawa sejak lahir. Oleh karena itu, proses membaca yang dilakukan oleh seorang dewasa (dapat membaca) merupakan usaha mengolah dan menghasilkan sesuatu melalui penggunaan modal tertentu.
         Membaca adalah proses produksi yang menghasilkan pengetahuan, pengalaman, dan sikap-sikap baru. Seperti hukum yang berlaku dalam dunia usaha, semakin besar modal seseorang untuk berusaha, semakin besar pula kemungkinan hasilnya. Oleh karena itu, seperti halnya sebuah perusahaan yang menghasilkan sesuatu melalui proses mengolah. Membaca juga merupakan proses mengolah, yakni mengolah bacaan. Nah, untuk mengolah hal itu diperlukan modal tertentu. Secara garis besar, aktifitas membaca berkaitan dengan dua hal pokok, yaitu pembaca dan bahan bacaan. Untuk memperlancar proses membaca, seorang pembaca harus memiki modal: 1). Pengetahuan dan pengalaman, 2). Kemampuan berbahasa (kebahasaan), 3). Pengetahuan tentang tekhnik membaca, 4). Tujuan membaca.[8]
2. Tujuan membaca
         Tujuan membaca dianggap juga sebagai modal dalam membaca. Bahkan menurut hasil penelitian, hubungan antara tujuan membaca dengan kemampuan membaca sangat signifikan. Inilah yang mendorong para ahli menyepakati bahwa tujuan membaca merupakan modal utama membaca.[9]
         Hal-hal yang berkaitan antara tujuan membaca dengan proses membaca yaitu:
-    Memahami adanya berbagai macam dan variasi tujuan membaca
-    Perlunya membangkitkan atau mendorong timbulnya berbagai tujuan membaca
-    Perlunya latihan membaca bagi seseorang dengan tujuan membaca yang bervariasi
-    Perlunya membina dan mengembangkan berbagai strategi membaca selaras dengan ragam tujuan membaca
-    Perlunya membangun perangkat tujuan membaca yang terbimbing untuk meningkatkan kemampuan membaca
         Tentang tujuan membaca itu banyak urusan yang bisa dibuat, tergantung dari mana kita melihatnya. Secara garis besar tujuan membaca itu sangat luas sifatnya karena setiap situasi membaca mempunyai tjuan tersendiri yang bersifat spesifik. Namun, secara umum ada penggolongan membaca tentang tujuan membaca yang telah dikemukakan oleh ahli membaca Waples (1967). Dalam eksperimennya ia menemukan bahwa tujuan membaca itu meliputi beberapa hal yang pada hakikatnya tujuan membaca adalah modal utama membaca. Tujuan yang jelas akan memberikan motivasi yang intrinsik yang besar bagi seseorang. Seseorang yang sadar sepenuhnya akan tujuan membaca akan dapat mengarahkan sasaran daya pikir kritis dalam mengolah bahan bacaan sehingga memperoleh kepuasan dalam membaca.[10]

3. Efektifitas membaca
         Membaca cepat artinya membaca yang mengutamakan kecepatan dengan tidak mengabaikan pemahamannya. Penerapan kemampuan membaca cepat itu disesuaikan dengan tujuan membacanya, aspek bacaan yang digali (keperluan) dan berat ringannya bacaan.
         Efektif, artinya peningkatan membaca itu harus diikuti pula oleh peningkatan pemahaman terhadap bacaan. Pembaca yang efektif dan kritis tahu tentang apa yang perlu digalinya dari bahan bacaan secara cepat, mengabaikan unsur-unsur yang kurang penting, serta membuang hal-hal yang tidak diperlukan. Seorang pembaca yang buruk melakukan tindakannya dan memahaminya secara terputus. Jadi, pemahaman terhadap bacaan menjadi terganggu karena setiap kata dipahami satu persatu. Hal itulah yang menghambat pemahaman seseorang.
         Seorang pembaca efektif melihat setiap baris bacaan hanya pada satu-satuan pikiran yang ada. Biasanya berupa frase-frase, klausa-klausa, atau kata-kata kunci. Jadi bagian bacaan yang dilihat semakin sedikit. Akibatnya, perpindahan mata akan semakin cepat, dan pada akhirnya kecepatan membaca dapat ditingkatkan. Ia tidak memahami kata demi kata sesuai dengan makna aslinya (dalam kamus), tetapi melihat makna kita sesuai dengan konteks kalimatnya. Dengan demikian, pemahaman juga dapat ditingkatkan.[11]

4. Pengetahuan tentang teknis membaca
         Jika diatas telah dijelaskan bahwa pengetahuan, pengalaman dan kemampuan berkomunikasi lisan merupakan modal utama membaca, tampaknya pengetahuan tentang teknik lebih cenderung dianggap sebagai alat. Alat yang dapat digunakan dalam mencerna bahan tulis. Realisasinya berupa seperangkat keterampilan untuk mengolah setiap aspek bahan bacaa menjadi sesuatu yang bermakna bagi pembaca.
         Keterampilan ini berkaitan dengan keseluruhan aktifitas membaca  sehingga dapat mencakup makna proses membaca sebagai aktifitas mengolah kata yang terkandung dalam bahan bacaan, kreatifitas, membaca, sampai pada aktifitas membaca cepat.[12]
         Secara garis besar, pengetahuan tentang teknik membaca itu meliputi:
a.  Pengetahuan tentang aspek-aspek keterampilan membaca
-    Keterampilan mengenali kata
-    Keterampilan mengenali tanda baca
-    Keterampilan memahami makna tersurat
Yaitu seperti keterampilan memahami makna kata, frase, kalimat, paragraf, subbab, bab, dll.
-    Keterampilan membaca kritis
-    Kemampuan membaca kreatif

b. Pengetahuan tentang teknik membaca cepat
c.  Pengetahuan tentang membaca telaah ilmiah

5. Masalah umum dalam membaca
         Seperti pada umumnya, orang tidak sadar dengan masalah membacanya. Kebanyakan orang telah puas dengan kondisi kemampuan membacanya, baik dalam kecepatan maupun dalam tingkat pemahamannya. Padahal secara teoritis, kecepatan dan pemahaman terhadap bacaan itu dapat ditingkatkan dua atau tiga kali lipat dari kecepatan dan pemahaman semula. Itu bagi seseorang yang benar-benar mau meningkatkannya. Ada beberapa masalah dan hambatan yang umum terjadi pada setiap orang, masalah tersebut antara lain:[13]
a.  Rendahnya tingkat kecepatan membaca
         Masalah kecepatan membaca ini menjadi hambatan karena pada umumnya orang tidak ambil pusing dengan kebiasaan membacanya. Termasuk cara membaca yang buruk. Kemampuan membaca yang buruk (dalam arti rendahnya kecepatan membaca) jelas sangat mengganggu orang-orang yang sehari-harinya memang bergelut dengan buku. Misalnya pelajar dan mahasiswa. Sampai-sampai sering kita jumpai ada pelajar dan mahasiswa yang kekurangan waktu untuk membaca literatur-literatur yang diwajibkan padanya. Bukan karena waktu yang dimiliki kurang, melainkan karena banyaknya waktu yang tersita untuk membaca hanya satu judul buku saja.
b. Minimnya pemahaman yang diperoleh
         Tingkat pemahaman terhadap bacaan juga salah satu indikator keefektifan membaca seseorang. Minimnya tingkat pemahaman ini menjadi masalah karena ada kecenderungan anggapan bahwa semakin lambat cara membaca seseorang, semakin tinggi pula pemahamannya. Padahal, pada kasus latihan membaca cepat, anggapan justru terbalik, yaitu peningkatan kecepatan membaca akan diikuti dengan peningkatan pemahaman bacaan.
c.  Kurangnya minat baca
         Masalah yang menjadi hambatan membaca adalah kurangnya minat membaca. Faktor yang membelakangi hal ini adalah kebiasaan, sarana, buku-buku yang dibaca, atau kurang sesuainya bahan bacaan yang tersedia dengan minat yang dimiliki. Ada indikator bahwa tingkat kemajuan suatu bangsa itu dapat diukur dari berapa banyak waktu sehari-hari yang digunakan warganya untuk membaca. Semakin banyak waktu yang digunakan untuk membaca, artinya menurut kebutuhan secara pribadi, bukan dipaksa membaca seperti halnya membaca demi tugas sekolah ataupun kuliah, maka dengan itu semakin tinggi pula tingkat budaya bangsa tersebut.
d.                   Minimnya pengetahuan tentang cara membaca yang cepat dan efektif
         Pengetahuan tentang cara membaca yang efektif tampaknya juga merupakan faktor yang tak kalah pentingnya sebagai masalah dalam membaca. Secara teoritis, seorang pembaca yang lambat pada hakikatnya bukanlah pembaca yang bodoh, tetapi mungkin ia hanyalah seorang pembaca yang tidak efisien.

6. Tipe-tipe pembaca yang tidak efisien
         Tipe-tipe pembaca yang tidak efisien diantaranya yaitu:
a.  Membaca dengan memvokalkan apa yang dibacanya
         Banyak orang yang melakukan cara membacanya dengan melafalkan apa yang dibacanya kata demi kata dengan bantuan alat-alat ucap (mulut). Dengan kata lain, kecepatan membaca disamakan dengan kecepatan berbicara. Bagaimana mungkin ini bisa dikatakan sebagai pembaca yang baik dan efisien? Kita sepakat bahwa proses membaca adalah proses berpikir. Disini jelas bahwa kecepatan berpikir tidak sama dengan kecepatan berbicara. Jika seseorang melakukan tindakan membaca dengan memvokalkan apa yang dibacanya, itu berarti ia melakukan dua kerja sekaligus. Membaca dengan gagasan bacaan ( berpikir) dan berbicara. Jelas bahwa tindakan memvokalkan bahan bacaan merupakan sesuatu yang menghambat kecepatan membaca, sekaligus menghambat pemahamannya. Pembaca yang seperti itu adalah pembaca yang kurang efektif.
b. Membaca sambil bergerak
         Yang dimaksud dengan tipe pembaca bergerak ialah seorang pembaca yang dalam perbuatan membacanya diikuti oleh gerak-gerik sebagian anggota badan, baik disengaja maupun tidak. Contohnya, membaca sambil menggoyang-goyangkan kaki, membaca sambil menggigit-gigit ujung alat tulis, dan sebagainya. Secara prinsip, faktor ini tidak mengganggu benar, akan tetapi menghilangkan kebiasaan ini akan menambah konsentrasi terhadap bacaan dan lebih sempurna.
c.  Membaca sambil tiduran (berbaring)
         Ada sebagian orang yang membaca nikmat bila membaca sambil tiduran. Cara membaca ini jelas merupakan kebiasaan membaca yang jelek. Terutama ditinjau dari segi kesehatan mata. Dengan membaca sambil tiduran, mata dipaksa bekerja lebih keras. Kelelahan mata adalah efek langsung dari membaca seperti itu.

d.                   Membaca tidak konsentrasi
         Ini juga salah satu kelemahan dari beberapa orang pembaca. Terkadang tampak secara jelas, secara fisik seseorang sedang membaca. Tetapi kenyataannya hanya pada awal-awal baris saja ia membacanya., setelah itu ia berkhayal diluar konteks apa yang dibacanya. Dan ini biasanya telah membudaya dikalangan kita. Baru setelah sadar kembali, diteruskannya kegiatan membacanya. Hal inilah yang dimaksud dengan tipe pembaca yang tidak berkonsentrasi.[14]

7. Pandangan yang salah dalam membaca
         Dalam keterampilan membaca, ada beberapa pandangan yang salah dalam kegiatan membaca, diantaranya yaitu:
a.  Pandangan yang menganggap bahwa membaca hanya merupakan kegiatan reseptif
         Ada kecenderungan bahwa kegiatan membaca merupakan kegiatan menerima. Tampaknya seperti ada benarnya, sebab kita menerima sesuatu dari penulis bacaan. Akan tetapi, untuk mendapatkan pemahaman yang baik dan menyeluruh, kita tidak dapat melakukannya dengan berpasrah diri (reseptif). Untuk memperoleh itu, kita secara aktif bekerja mengolah teks bacaan menjadi bahan bermakna. Bagaimana kita memperoleh makna yang terkandung jika hanya diam, sementara teks bacaan adalah benda mati? Jadi, kitalah yang sebenarnya aktif. Bahkan bukan hanya pemahaman yang dituntut dalam membaca, melainkan juga pengolahan bahan bacaan itu secara kritis dan kreatif.

b. Membaca hanya sebagai proses mengingat
         Sebuah kesalahan besar jika membaca itu identik dengan proses mengingat bahan bacaan. Jika ini disepakati, maka pembaca tak ubahnya dengan komponen memori (ingatan) yang bertugas menyimpan data persis dengan apa yang dikatakan pengarang. Ada kecenderungan dikalangan pelajar dan mahasiswa menyamakan membaca itu sebagai proses menghafal informasi. Pandangan seperti itu yang perlu diubah. Membaca juga proses kerja mental yang melibatkan aspek-aspek berpikir kritis dan kreatif. Pembaca yang baik adalah pembaca yang tahu mengolah bahan bacaannya secara kritis dan kreatif. Dalam prosesnya ia tidak lupa mengadakan analisis, sintesis, menimbang-nimbang, menilai, dan seterusnya secara kritis. Atau lebih berarti jika ia mampu menerapkannya dalam kehidupan secara nyata dan kreatif.
c. Membaca hanya bila perlu saja
         Pendapat yang demikian jelas menyesatkan. Jika dilihat dari konteks perkembangan dunia saat ini, jelas bahwa bila seseorang membaca buku hanya bila ia membutuhkan sesuatu dari suatu jenis buku tertentu, itu jelas salah. Seseorang yang bisa dianggap maju dan aktual adalah orang yang terbiasa membaca diberbagai kesempatan dan pada berbagai bidang kehidupan. Ingat bahwa tingkat kemajuan suatu bangsa dapat diukur dari kebiasaannya membaca. Artinya, seberapa besar pola dan kebutuhan membaca menjadi pegangan hidup sehari-hari. Itulah makanya seseorang yang pengetahuannya luas dan aktual selalu membaca, membaca, dan membaca.[15]

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
         Dari makalah yang kami buat, kami dapat menyimpul;kan bahwa keterampilan membaca adalah proses produksi yang menghasilkan pengetahuan, pengalaman, dan sikap-sikap baru. Membaca juga dapat diartikan bahwa membaca itu merupakan aktifitas yang kompleks yang melibatkan berbagai faktor yang datangnya dari dalam diri pembaca dan faktor luar. Selain itu, membaca juga dapat diartikan sebagai jenis kemampuan manusia sebagai produk belajar dari lingkungan, dan bukan kemampuan yang bersifat instingtif, atau naluri yang dibawa sejak lahir. Jadi, semakin banyak dan sering seseorang membaca, maka semakin kaya pula ia akan pengetahuan dan pengalamannya, yang berarti semakin banyak pula modal yang dimilikinya untuk membaca. Demikian kebiasaan membaca itu berkembang, maka sejalan dengan itu berkembang pula pengetahuan seseorang.
         Dan yang perlu diingat bahwa latar belakang pengetahuan dan pengalaman itu bukanlah sesuatu yang bisa diperoleh begitu saja dalam waktu yang singkat. Pengetahuan dan pengalaman adalah hasil suatu proses yang bersifat berkelanjutan, sesuai dengan kecenderungan ilmu dan kebutuhan membaca kita. Tentang tujuan membaca, banyak rumusan yang bisa dibuat, tergantung pada dari mana kita melihatnya. Secara garis besar tujuan membaca itu luas sifatnya karena setiap situasi membaca mempunyai tujuan tersendiri yang bersifat spesifik.
B.     Saran
         Demi kelancaran dan kesempurnaan pembuatan makalah ini, kami mohon kepada para pembaca untuk memberikan saran dan kritiknya yang membangun. Karena kami sadar bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak kesalahan dan khilafannya.
DAFTAR PUSTAKA

Ø  Nurhadi. Membaca Cepat Dan Efektif. Bandung; C.V Sinar Baru. 1987
Ø  Djaja, Azis. Buku Ajar Bahasa Indonesia. Pamekasan; STAIN Pamekasan press. 2006
Ø  Suparni. Penuntun Pelajaran Bahasa Dan Sastra Indonesia. Bandung; Genica Exact. 1990
Ø  Adler, Mortiner J, dan Charles Van Doren. Cara Membaca Buku Dan Memahaminya. Jakarta; Pantja Simpati. 1986
Ø  Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Jakarta; Balai Pustaka. 2005
End Note:


[1] Departemen pendidikan Nasional. KBBI. Hal: 88
[2] Suparni. Penuntun Pelajaran Bahasa Dan sastra Indonesia. Hal: 37
[3] Suparni. Penuntun Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Hal: 37
[4] Departemen Pendidikan Nasional. KBBI. Hal: 245
[5] Suparni. Penuntun Pelajaran Bahasa Dan Sastra Indonesia. Hal: 37
[6] Suparni. Penuntun Pelajaran Bahasa Dan Sastra Indonesia. Hal: 38
[7] Ibid, hal: 53-54
[8] Nurhadi. Membaca Cepat Dan Efektif. Hal: 123
[9] Nurhadi. Membaca Cepat Dan Efektif. Hal:134
[10] Nurhadi. Membaca Cepat Dan Efektif. Hal: 135-136
[11] Nurhadi. Membaca Cepat Dan Efisien. Hal: 39-40
[12] Ibid, hal: 128-131
[13] Nurhadi. Membaca Cepat Dan Efektif. Hal: 17-25
[14] Nurhadi. Membaca Cepat Dan Kreatif. Hal: 110-113

Tidak ada komentar: